Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Peracik Jamu Sambut Penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Oleh UNESCO

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 24 November 2023 | 19:30 WIB
AKAN JADI WBTB: Pembuat jamu tradisional mengolah tanaman obat menjadi jamu di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Purwoharjo, Kamis (23/11).
AKAN JADI WBTB: Pembuat jamu tradisional mengolah tanaman obat menjadi jamu di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Purwoharjo, Kamis (23/11).

PURWOHARJO, Jawa Pos Radar Genteng – Bocoran penetapan jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) disambut baik oleh warga yang menekuni usaha jamu. Penetapan WBTB itu, akan membawa dampak positif.

Dalam keterangan resminya, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudriset) Hilmar Farid menyebut, jamu akan ditetapkan sebagai WBTB oleh UNESCO pada tahun ini. “Tanggal resminya belum tahu, tapi akan terlaksana tahun ini,” ujarnya.

Hilmar mengatakan, jamu yang dianggap sebagai WBTB bukan hanya jamu dari suatu daerah tertentu, melainkan secara keseluruhan, terutama mengenai kemampuan masyarakat Indonesia meracik jamu. “Yang ditetapkan itu kemampuan masyarakat untuk meracik dan meramu. Itu ada berbagai teknik yang digunakan, dan inilah yang didaftarkan, pengetahuannya yang didaftarkan, bukan produknya,” terangnya.

Rencana jamu akan dijadikan WBTB UNESCO, disambut baik oleh para peracik jamu, salah satunya Resmi Asih, 50, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Purwoharjo. “Saat ini industri jamu s kurang diminati generasi muda, banyak yang enggan jadi pengusaha jamu,” ujarnya Kamis (23/11).

Akibatnya, kata dia, banyak toko-toko jamu tradisional yang mulai gulung tikar alias menutup usahanya. Penyebabnya, tidak ada generasi penerus yang melanjutkan usahanya itu. “Jamu tradisional ini masih memiliki banyak peminat,” terangnya.

Saat pandemi Covid-19 melanda, jelas dia, para peracik jamu tradisional banyak dicari masyarakat. Saat itu, banyak orang yang butuh pengobatan alternatif untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. “Banyak yang mencari jamu,” terangnya.

Sebagai penerus generasi ketiga, Resmi menyebut pegawainya kini didominasi ibu-ibu paro baya. “Anak-anaknya belum bisa mengolah tanaman obat untuk dijadikan jamu, ilmunya jadi mandheg,” jelasnya.

Dengan adanya pengakuan WBTB oleh UNESCO itu, Resmi berharap membuat jamu kembali diminati oleh generasi muda. “Jangan sampai dengan melimpahnya kekayaan alam di Indonesia, anak cucu malah bingung mencari dan mengolah tanaman obat menjadi jamu,” katanya.(gas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#toko #Tanam #pendidikan #Disambut #Kebudayaan #warisan #daerah #budaya #sistem #tradisional #Tikar #peminat #penetapan #kekayaan #riset #teknologi #peracik jamu #Covid - 19 #wbtb #Direktur #industri #kementrian #positif #warga #dampak #benda #unesco #usaha #obat #pengusaha