MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Petani di Banyuwangi biasanya melaksanakan tradisi bubak bumi sebelum masa tanam. Nelayan ternyata juga punya tradisi serupa, seperti yang dilakukan para nelayan di Dusun Palurejo, Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar Kamis (23/11).
Para nelayan di ujung timur Pulau Jawa itu, menggelar selamatan perahu atau oleh masyarakat sekitar biasa disebut tradisi slametan prau. Tradisi ini ternyata sudah berlangsung sejak lama secara turun temurun. “Ini dilakukan setiap ada perahu yang baru selesai dibuat, sebelum berlayar diadakan slametan prau,” terang Supriyanto, 45, pemilik perahu.
Sejak pagi, kata dia, beberapa nelayan sudah berkumpul di sekitar perahunya yang baru selesai dibuat. Sebelum perahunya dipakai untuk mencari ikan, maka diadakan selamatan. “Kita menggelar doa bersama nelayan lain,” katanya.
Slametan prau, terang Supriyanto, salah satu wujud syukur atas selesainya pembuatan perahu. Tradisi itu juga sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan untuk keselamatan selama berada di laut. “Kita selamatan dengan nasi ditaruh diatas perahu,” ujarnya.
Prosesi selamatan ini dilakukan dengan berdoa bersama di sekitar perahu. Salah satu nelayan membawa air yang telah diberi taburan kelopak bunga mawar. “Air itu didoakan bersama-sama oleh nelayan,” katanya.
Usai doa bersama, air yang telah didoakan itu disiramkan ke bagian dek perahu dan nelayan yang ikut berdoa. Selanjutnya, makan bersama. “Perahu didorong bersama-sama ke laut untuk memulai tugas mencari ikan,” ungkapnya.
Salah satu warga sekitar yang mengikuti tradisi slametan prau, Syamsul Arifin, 33, mengatakan, tradisi untuk minta keselamatan pada perahu yang baru dibuat ini, sekarang sudah mulai jarang dilakukan. “Ini ada warga yang membuat perahu, dan kita hidupkan tradisi lama itu,” cetusnya.
Syamsul menyebut, saat ini sudah jarang nelayan yang membuat perahu baru di kampungnya. Karena membuat perahu baru, itu membutuhkan biaya yang cukup besar. “Sekarang tangkapan ikan juga tidak sebanyak dulu,” ujarnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi