PURWOHARJO, Jawa Pos Radar Genteng – Nyali para nelayan di daerah Pantai Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, tampaknya cukup tinggi. Keganasan ombak di sekitar Plawangan dan Laut Selatan, tetap enggan menggunakan peralatan keselamatan seperti life jacket atau jaket pelampung. Padahal, sudah banyak korban jiwa.
Salah satu nelayan M Alif, 50, asal Dusun Kampung Baru, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo mengatakan, saat melaut nelayan tidak mengenakan peralatan keselamatan. “Nelayan biasanya tidak pakai jaket pelampung (rompi apung),” ungkapnya Selasa (21/11).
Beberapa nelayan, ujar Alif, beralasan karena tidak disediakan oleh juragan kapal. Di samping itu, sebagian besar dari mereka sudah memahami risiko saat berada di tengah laut. “Kalau ingin melaut harus punya modal keberanian,” katanya.
Di perairan Samudera Indonesia yang berbatasan dengan Pantai Grajagan, jelas dia, sering terjadi kecelakaan laut, terutama di daerah Plawangan. “Sudah banyak perahu terbalik dan ABK (anak buah kapal) tenggelam karena tergulung ombak,” ujarnya.
Kasus nelayan yang tenggelam di sekitar Pantai Grajagan ini, lanjut dia, biasanya terjadi karena kelelahan terseret ombak atau tidak bisa berenang. “Tidak semua nelayan bisa berenang, ada yang ikut jadi nelayan karena tidak punya pekerjaan di tempat asalnya,” katanya.
Nelayan lainnya, Fatkurrohman, 51, asal Dusun Stoplas, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar mengaku masih enggan mengenakan jaket pengaman saat melaut. “Tidak bisa leluasa, terutama saat menarik ratusan kilogram ikan di laut lepas,” dalihnya.
Bapak tiga anak itu juga tak menampik soal tingginya risiko tenggelam jika tidak mengenakan jaket pelampung saat bekerja di tengah laut. “Sudah bagian dari risiko kalau kerja di laut,” ujarnya pasrah.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi