PURWOHAR
Ritual yang sudah berlangsung hamper seabad lalu itu, diramaikan dengan kesenian jaranan menuju Sumber Air Umbul Sari yang terletak di sisi utara desa. Untuk menuju ke lokasi, warga berjalan kaki sambil diiringi kesenian jaranan. Tradisi ini biasa dilakukan setiap tahunnya pada November atau Desember. “Biasanya dilaksanakan pada Jumat Legi atau Pahing,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat, Purnomo.
Dalam tradisi ini, terang dia, warga menikahkan sepasang kucing jantan dan betina. Untuk menuju lokasi ritual, kedua kucing itu digendong warga sambil diarak. “Prosesnya bukan seperti pernikahan manusia yang mengucapkan ijab qobul, kucing akan diarak menuju sumber air,” jelasnya.
Kedua kucing itu, jelas dia, dipertemukan di sumber air dan didoakan oleh sesepuh kampung. Di sumber air itu, kucing disiram air. Warga yang mengikuti prosesi itu, juga saling menyiram. “Warga ramai-ramai saling menyiram, juga ada yang membawa dawet,” terangnya.
Tokoh warga desa lainnya, Eko Susanto, 47, menambahkan, Mantu Kucing yang digelar masyarakat Dusun Curahjati, Desa Grajagan, ini berlangsung sangat meriah. “Sejak pukul 08.00 sudah ikut arak-arakan dari jalan utama desa sampai sumber air ini,” ujarnya.
Sesampainya di sumber air, kata dia, sepasang kucing jantan dan betina itu didoakan dan dilepasliarkan di dekat sumber air yang tidak pernah kering itu. “Acara dilanjutkan syukuran dengan makan bersama di pendapa dekat sumber air karena hujan sudah turun,” terangnya.
Juru kunci sumber air Umul Sari, Misman menyampaikan dalam tradisi ini masyarakat memberi nama pasangan kucing itu dengan Slamet dan Rahayu. “Tuan rumah atau wali dua ekor kucing diberi nama Joko Tirto,” ujarnya.
Selama diarak, Slamet dan Rahayu digendong oleh dua wali Joko Tirto dari dua arah yang berlawanan, utara dan selatan. “Ini maknanya mewakili sumber air dari dua arah,” terangnya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Pengambilan nama untuk pasangan kucing ini, jelas dia, bukan tanpa sebab. Dalam bahasa Jawa, Slamet berarti selamat, sedang Rahayu berarti sejahtera. “Diharapkan dengan acara tradisi ini dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan menjauhkan dari segala musibah,” katanya.
Tradisi Mantu Kucing sudah digelar warga sejak 1930. Saat itu, terjadi kemarau panjang yang membuat banyak warga kesusahan. Bahkan mengakibatkan kematian karena kesulitan pangan. “Kepala desa mendapat wangsit dari Danyang Mbah Umbul Sari untuk mengadakan Mantu Kucing dan jaranan,” katanya.
Tradisi itu kemudian dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Namun, saat ini makna tradisi Mantu Kucing sudah berbeda. “Kalau dulu sebagai tradisi meminta hujan, sekarang lebih dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat menyambut musim hujan yang sudah tiba,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi