MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Kemarau yang berkepanjangan hingga membuat persawahan kering, membuat petani di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar kelimpungan. Sebab, di desa itu ada belasan hektare sawah yang ditanami beraneka tanaman gagal panen.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Muncar, ada beberapa lahan di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar yang mengalami puso (gagal panen). “Ada yang gagal panen,” terang Koordinator BPP Muncar, Eva Ermawati.
Lahan yang jenis tanaman yang gagal panen selama musim kemarau ini, jelas dia, tanaman padi seluas lima hektare, ada tanaman jagung yang juga gagal panen seluas tujuh hektar. “Ada tanaman kedelai seluas tujuh hektare juga gagal panen,” ungkapnya.
Untuk meringankan beban petani, jelas dia, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi telah memberikan bantuan kepada petani terdampak. “Bantuan yang diserahkan berupa benih jagung dan pupuk organik cair,” katanya
Sementara itu, hujan deras yang sudah mulai mengguyur wilayah Desa Blambangan, Kecamatan Muncar selama beberapa hari terakhir, langsung disambut petani yang baru panen dengan memulai mengolah sawahnya lagi. Salah satu petani Nanang Wahyudi, 40, warga Dusun Mangunrejo, Desa Blambangan, mengaku saat ini sudah mulai membajak sawahnya. “Datangnya musim hujan, langsung dimanfaatkan untuk mulai menanam,” ujarnya, Rabu (15/11).
Di lahan seluas seperempat hektar miliknya, Nanang sejak pagi mulai membajak sawah dengan bantuan traktor tangan. “Agar cepat selesai dan bisa segera tanam,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Keputusannya untuk mempersiapkan sawahnya ini, bukan tanpa alasan, Nanang sebenarnya sempat menunda waktu membajak. “Selama musim kemarau, air susah dan harus gilir dengan sawah lain,” ungkapnya.
Saat musim hujan tiba, saluran irigasi di sekitar petak sawah mulai terisi kembali. Sawahnya yang sempat kekeringan sudah mulai teraliri. “Air hujan juga otomatis masuk ke sawah, membuat tanah menjadi lebih mudah untuk dibajak,” ujarnya.
Bapak tiga anak itu menyampaikan hasil panen sebelumnya sedikit kurang memuaskan. Itu karena musim kemarau yang cukup panjang. “Untungnya waktu tanaman padi masih muda, ada air cukup,” terangnya.
Petani lainnya, Sumardi, 50, mengungkapkan sudah dua hari terakhir ini hujan turun dan memenuhi saluran irigasi di persawahan. “Alhamdulillah, sudah turun hujan, setelah beberapa waktu lalu ada salat Istisqa,” katanya.
Hujan, kata dia, sangat ditunggu oleh petani. Apalagi, di desa lain ada yang sampai gagal panen karena tanamannya kurang air. “Seperti di daerah Desa Tapanrejo, Muncar. Kabarnya ada yang puso,” ungkapnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi