MUNCAR, RadarBanyuwangi.id – Saat musim panen berlangsung, banyak ditemui tumpukan jerami di sawah. Itu ternyata masih bernilai rupiah dengan dimanfaatkan untuk kompos dan pakan ternak.
Salah satu buruh tani, Samiatun, 60, warga Dusun Krajan, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, mengatakan, banyak petani sengaja membiarkan jerami di sawahnya.
“Ada manfaatnya, jadi tidak langsung dibuang,” ungkapnya, Senin (13/11).
Sisa batang padi atau jerami itu, kata Samiatun, terkadang masih tersisa bulir padi, dan itu yang dicari oleh para pengasak.
“Bulir padi itu diberikan secara cuma-cuma ke pengasak,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Setelah bulir padi habis, jelas dia, sisa tanaman padi itu dibiarkan di sawah hingga beberapa hari sampai mengering.
Tidak jarang, jerami itu dibakar. “Dibakar dan abunya dimanfaatkan untuk pupuk kompos,” terangnya.
Selain dibakar, jelas dia, jerami juga memiliki manfaat lain bagi petani komoditas lain seperti mentimun, semangka, dan cabai.
“Untuk mulsa atau penutup tanah saat menanam tanaman semangka atau cabai,” cetusnya.
Penggunaan jerami untuk mulsa iniu, kata dia, bermanfaat mempertahankan air dalam tanah, dan dapat menekan pertumbuhan beberapa gulma yang merugikan.
“Jadi petani tidak selalu pakai mulsa plastik saja, bisa juga pakai jerami,” imbuhnya.
Buruh tani lainnya, Masripah, 55, asal Dusun Rejosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring menambahkan, ia biasa mengambil beberapa jerami untuk pakan ternak.
“Bisa untuk campuran pakan kambing atau sapi,” terangnya.
Sebelum mengambil jerami, Masripah mengaku akan meminta izin ke pemilik sawah. Jika dibolehkan, beberapa jerami akan dibawa pulang untuk dibuat pakan ternak.
“Kadang ada petani yang tidak mengizinkan,” katanya. (gas/abi)
Editor : Ali Sodiqin