Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perayaan Wayang Kulit di RTH Desa Karetan Sepi Penonton, Warisan Budaya ini Mulai Jarang Terlihat

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 8 November 2023 | 18:00 WIB
LESTARIKAN: Dalang muda ikut memeriahkan Hari Wayang Nasional di RTH Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo Selasa (7/11) siang.
LESTARIKAN: Dalang muda ikut memeriahkan Hari Wayang Nasional di RTH Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo Selasa (7/11) siang.

PURWOHARJO, Jawa Pos Radar Genteng – Dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) dan Pemerintah Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, menggelar pagelaran wayang kulit di lapangan desa, Selasa (7/11).

Wayang kulit yang pernah menjadi hiburan rakyat yang banyak diminati warga itu, kini sepertinya mulai ditinggal. Buktinya, dalam pagelaran wayang kulit itu sepi penonton. Bila ada hanya dari kalangan orang tua. “Saya melihat wayang sendirian setelah menggarap sawah,” ujar Asmui, 60, warga Dusun Jatimulyo, Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo.

Asmui ini salah satu penggemar seni wayang kulit. Malahan, kaek ini sudah sering menonton kesenian tradisional ini sejak masih kecil. “Saya dulu sering diajak oleh almarhum bapak menonton wayang sampai di luar desa,” katanya.

Bagi kakek tiga cucu ini, menonton wayang kulit itu hiburan. Itu seperti anak-anak muda yang sekarang gemar menonton dangdut atau konser lainnya. “Untuk hiburan saja, agar tidak jenuh di rumah,” ujarnya.

Dibandingkan masa kecilnya dulu, masih kata dia, pagelaran wayang kulit yang ada sekarang tidak banyak didatangi anak muda. Bila ada yang menonton, hamper semua kalangan tua. “Kalau dulu mulai dari anak kecil sampai orang tua banyak yang nonton,” kenangnya.

Selain itu, lanjut dia, jumlah pagelaran salah satu warisan budaya tak benda UNESCO ini juga mulai jarang terlihat. “Biasanya ada kalau bersih desa, hajatan nikah, ruwatan, atau saat hari besar. Kalau dulu hampir setiap pekan selalu ada,” ungkapnya.

Pada peringatan Hari Wayang Nasional dan Dunia, Selasa (7/11) siang, Asmui menyebut jumlah penontonnya juga sepi. “Padahal banyak dalang muda berbakat yang tampil cukup bagus dengan sabetan-sabetan wayangnya,” katanya.

Kepala Desa Karetan, Bonari membenarkan pagelaran wayang kulit yang digelar di RTH Karetan itu memang sepi penonton. “Mungkin banyak warga yang bekerja, jadi sepi (penonton),” ujarnya seraya menyebut penonton wayang kulit ini banyak dari luar desanya.

Salah satu dalang muda Windy Sugianto asal Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng mengatakan, selain menurunnya peminat wayang kulit, permasalahan regenerasi juga timbul pada wiyogo (penabuh gamelan). “Regenerasi untuk wiyogo susah,” katanya.

Tantangan regenerasi wiyogo berasal dari personelnya yang berjumlah cukup banyak dalam setiap pagelaran. Upaya regenerasi sudah kerap dilakukan, tapi hasilnya juga tidak memuaskan. “Upaya regenerasi kandas karena salah satu dari anggota grup wiyogo harus keluar, biasanya karena melanjutkan sekolah,” pungkasnya.(gas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#Kalangan #pagelaran #warisan #dalang #masa kecil #budaya #Hiburan #persatuan #rakyat #sepi #tradisional #Ditinggal #wayang kulit #penonton #hari #RTH #sekolah #perayaan #orang tua #kesenian #warga #sawah #pepadi #pemerintah desa #unesco