Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Diskop UMK Akan Datangkan Cabai Rawit dari Luar Daerah, Apa kata Petani Banyuwangi

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 4 November 2023 | 14:10 WIB
TINGGI: Buruh tani memanen cabai rawit di salah satu sawah Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng Jumat (3/11).
TINGGI: Buruh tani memanen cabai rawit di salah satu sawah Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng Jumat (3/11).
TINGGI: Buruh tani memanen cabai rawit di salah satu sawah Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng Jumat (3/11).
TINGGI: Buruh tani memanen cabai rawit di salah satu sawah Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng Jumat (3/11).

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Harga cabai rawit yang tinggi membuat Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop-UMP) bertindak. Salah satu upaya yang dilakukan mendatangkan pasokan cabai rawit dari luar daerah.

Harga cabai rawit tinggi, memang tidak menguntungkan konsumen. Tapi, bagi petani yang menanam pedasan ini mendapat berkah. Sebab, ini yang ditunggu. “(Harga cabai tinggi) sangat membantu menutup biaya produksi,” kata Sri Mulyani, 45, petani cabai asal Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Jumat (3/11).

Selama ini, kata dia, harga cabai rawit di pasar selalu mengikuti mekanisme pasar. Petani hanya mengikuti harga yang ditawarkan pengepul. “Soal harga jual, kita ikut pengepul yang lebih tahu kondisi pasar. Kami hanya mengikuti,” ungkapnya.

Terkait rencana Diskop-UMK akan mendatangkan cabai rawit dari luar daerah, Sri mengaku hanya bisa pasrah. Sebab, adanya pasokan dari luar daerah akan menurunkan harga jual komoditas yang ditanam. “Ya pasrah saja, yang penting saat harga masih tinggi dimanfaatkan sebaik mungkin,” katanya.

Saat ini petani cabai rawit masih menikmati harga jual yang tinggi. Harga jual di tingkat petani tembus Rp 60 ribu per kilogram. “Kalau harganya masih tinggi seperti sekarang, sisa uangnya disimpan,” ujarnya.

Sri menyebut uang simpanan itu akan digunakan saat harga cabai rawit turun. Bila harga cabai rawit turun drastis, uang simpanan yang akan dipakai. “Jadi masih ada uang untuk kebutuhan sehari-hari,” terangnya.

Petani cabai lainnya, Nasopah, 70, asal Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, juga tidak ambil pusing dengan rencana yang akan ditempuh Diskop-UMP itu. “Kalau harganya mahal terus, kasihan juga ibu-ibu yang butuh untuk usaha di warung,” katanya.

Kepala Diskop-UMP Banyuwangi, Nanin Oktaviantie mengaku untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, termasuk kebutuhan cabai, pihaknya melakukan antisipasi dengan mendatangkan stok dari luar daerah. “Kami biasanya bekerja sama dengan Cirebon,” katanya.

Nanin menyebut, jumlah stok yang didatangkan tidak banyak, dan biasanya permintaan setiap hari disesuaikan kebutuhan. Pasokan yang terlalu banyak, bisa menyebabkan komoditas seperti cabai rawit busuk dan merugikan pedagang. “Jadi (jumlahnya) fluktuatif, sesuai kebutuhan,” pungkasnya.(gas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#Petani #cabai rawit #diskop umk