Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Salat Istisqa di Bawah Naungan Awan, Anehnya Usai Salat Istisqa Muncul Angin Kencang

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 3 November 2023 | 16:51 WIB
MINTA HUJAN: Warga Kecamatan Kalibaru melaksanakan Salat Istisqa di tengah lpersawahan kaki Gunung Menyan, Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru Kamis (2/11)
MINTA HUJAN: Warga Kecamatan Kalibaru melaksanakan Salat Istisqa di tengah lpersawahan kaki Gunung Menyan, Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru Kamis (2/11)

GAMBIRAN, Jawa Pos Radar Genteng – Salat istisqa yang digelar di lapangan Ahmad Yani, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, ini tergolong aneh, Kamis (2/11). Saat digelar salat dan kutbah, mendadak muncul awan yang sangat tebal hingga menaungi jamaah yang sedang minta hujan itu.

Jamaah yang mengikuti Salat Istisqa yang dilaksanakan mulai pukul 09.00 di Lapangan Jajag ini jumlahnya mencapai ribuan orang. Seperti biasa, di daerah ini sejak pagi cuaca sangat panas. “Saat akan dilaksanakan salat, cuaca sangat panas,” kata Samiatun, 60, salah satu warga Desa Jajag.

Cuaca yang sangat panas itu, terang dia, tidak menyurutkan semangat warga untuk ikut salat minta hujan. Warga terus berdatangan ke lapangan. Anehnya, selama Salat Istisqa berlangsung mendadak muncul awan berukuran besar yang menaungi lapangan. “Saat salat dan kutbah ada awan tebal, jadi tidak terlalu panas dan rasanya teduh,” ungkapnya.

KHUSYUK: Jamaah melaksanakan Salat Istisqa di Lapangan Ahmad Yani, Dusun Krajan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran tidak terasa panas karena mendadak mendung Kamis (2/11).
KHUSYUK: Jamaah melaksanakan Salat Istisqa di Lapangan Ahmad Yani, Dusun Krajan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran tidak terasa panas karena mendadak mendung Kamis (2/11).

Fenomena alam lainnya, jelas dia, usai Salat Istisqa muncul angin yang berembus agak kencang hingga beberapa kali. “Biasanya jarang ada angin berembus seperti itu, semoga ini pertanda baik dan doa kami dikabulkan,” katanya.

Sementara itu, Salat Istisqa yang digelar warga di Kecamatan Kalibaru, ini berbeda. Bila daerah lain salat minta hujan dilaksanakan di lapangan, sekolah, atau ruang terbuka hijau (RTH), tapi warga di kecamatan paling barat di Kabupaten Banyuwangi itu melaksanakan Salat Istiqa di tengah persawahan, kaki Gunung Menyan, Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Kamis (2/11).

Puncak Gunung Menyan bisa dilihat dengan jelas dari lokasi warga melaksanakan salat minta hujan yang digelar serentak di 25 kecamatan di Banyuwangi itu. “Sengaja digelar di sawah karena petani sangat terdampak dengan kemarau yang berkepanjangan ini,” kata Camat Kalibaru, Susanto Wibowo.

Photo
Photo

Camat menyebut warga yang datang untuk ikut Salat Istisqa ini memiliki harapan yang sama, ingin tanah Kalibaru kembali dibasahi air hujan. “Wilayah kami terdampak kekeringan,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Salah satu petani yang terdampak terdampak, Hariyono, 51, asal Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru mengaku tanaman cabainya terancam gagal panen akibat kekurangan air. “Wilayah ini (Desa Kalibaru Wetan) mungkin masih lebih mending, masih ada airnya. Kalau di Kalibaru Kulon sudah sangat kering,” cetusnya.

Tidak hanya petani cabai, terang dia, panas ekstrem ini juga berdampak pada tanaman kopi milik petani. “Yang mulai berbunga bisa kering (bunganya), kami ikut salat ini untuk nyenyuwun ke Gusti Allah (untuk hujan),” pungkasnya.(gas/sas)

Editor : Agus Baihaqi
#wilayah #orang #angin #cabai #Petani #Ribuan #jamaah #harapan #lapangan #minta #Terdampak #awan #camat #hujan #warga #istisqa #salat #tebal #kekeringan #air hujan #kencang