MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Di tengah banjirnya hasil tangkapan ikan karena musim kemarau panjang, para nelayan harus melempar jangkar lagi. Mereka beristirahat melaut karena waktunya padangan atau purnama, Selasa (31/10).
Perahu dan kapal pemburu ikan, terlihat parkir dengan berjejer di pelabuhan yang ada di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar. “Sekarang masuk padangan, waktunya istirahat melaut,” cetus Mustofa, 47, nelayan asal Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Selasa (31/10).
Selama padangan atau purnama, terang dia, para nelayan memilih istirahat. Bila dipaksakan melaut, pasti tidak akan dapat ikan. “Sudah jadi tradisi, padangan memilih tidak melaut dan mengisi waktu dengan aktivitas lain,” katanya.
Beberapa aktivitas yang umum dilakukan para nelayan saat padangan, jelas dia, memperbaiki kapal dan peralatan melaut. “Ada yang memperbaiki mesin, mengecat ulang kapal, sampai memperbaiki jaring dengan ramai-ramai,” teragnya.
Nelayan lainnya, Matsani, 55, warga Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, menjelaskan nelayan banyak yang libur karena saat padangan ikan tidak mau keluar. “Selama bulan purnama, ikan sembunyi, dan itu tidak bias ditangkap,” terangnya seraya menyampaikan ikan itu akan muncul lagi bila purnama sudah lewat.
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Banyuwangi, Anang Budi Wasono menyebut hasil tangkapan ikan memang berpotensi menurun saat bulan purnama. “Saat padangan, ikan tidak akan muncul ke permukaan,” ungkapnya.
Saat purnama, jelas dia, ikan cenderung berenang ke dalam untuk menghindari predator. “Ini bentuk pertahanan diri dari ikan, karena cahaya bulan yang terang memudahkan predator untuk berburu,” terangnya.
Setelah masa padangan berakhir, lanjut dia, ikan yang awalnya bersembunyi dari predator akan kembali muncul ke permukaan laut. “Ikan akan ramai muncul lagi dan tangkapan ikan kembali normal,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi