Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Debit Air Turun Drastis, Petani di Kecamatan Singojuruh Banyuwangi Mulai Berebut Air untuk Aliri Sawah

Lugas Rumpakaadi • Senin, 30 Oktober 2023 | 21:40 WIB
MULAI TANAM: Petani menanam padi di Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh pada Sabtu (28/10) pagi.
MULAI TANAM: Petani menanam padi di Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh pada Sabtu (28/10) pagi.

RadarSitubondo.id – Kemarau yang berkepanjangan hingga membuat debit air berkurang, tampaknya mulai bermasalah di kalangan petani di wilayah Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Mereka berebut air untuk mengaliri sawahnya yang sudah mulai mengering akibat musim kemarau.

Selama kemarau ini, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi memberlakukan giliran. Karena air yang terbatas, petani harus sabar untuk menunggu giliran mendapatkan air.

“Untuk mendapatkan air, harus menunggu,” cetus Nur Hadi, 55, petani asal Dusun/Desa Benculuk, Kecamatan Cluring.

Nur Hadi mengaku saat mendapat giliran air, ternyata juga tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Air yang masuk kesawahnya, belum bisa mencukupi kebutuhan tanaman padinya.

“Sering kena sabotase, malam saluran ke sawah dipindah ke sawah milik orang lain,” terangnya.

Petani lainnya Kariyono, 49, warga Dusun Pancusari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring mengaku juga pernah dicurangi oleh petani lainnya. “Karena tidak ada yang mengalah, masalah air bisa ramai,” ungkapnya.

Petani yang curang dengan mengambil jatah air milik petani lainnya itu, jelas dia, karena kekhawatiran tanamannya rusak dan akhirnya gagal panen.

“Di kalangan petani gegeran soal air, itu sudah biasa,” terangnya.

Meski air susah karena kekeringan akibat kemarau Panjang, petani di wilayah Kecamatan Singgojuruh masih ada yang menanam padi. Mereka menyebut, ini sudah menjadi biasa.

“Kita selalu menanam padi,” dalih Rozikin, 50, petani asal Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh.

Rozikin menyebut, di sawahnya itu selalu ditanami padi, belum pernah ganti komoditas. Makanya, meski saat ini air susah didapat, banyak petani tetap menanam padi.

Baca Juga: Geger Ular Bersarang di Jok Jok Motor, Warga Klatak Banyuwangi Minta Bantuan Damkarmat

“Habis panen sempat istirahat sepekan, kemudian menggarap sawah lagi untuk tanam padi,” terangnya.

Menanam komoditas lain, kata Rozikin, memerlukan persiapan lebih. Setiap komoditas punya syarat tumbuh yang berbeda-beda.

“Mau tanam cabai membajaknya beda. Harus buat guludan tanah, pasang mulsa, dan beli benih. Perlu persiapan ekstra,” dalihnya.

Dengan menanam satu jenis tanaman di lahan yang sama, Rozikin menyebut lebih praktis dan hemat biaya.

“Kalau ganti, biaya yang dikeluarkan juga berbeda. Ditambah komoditas lain harganya juga fluktuatif,” katanya.

Harga komoditas hortikultura yang fluktuatif, kata dia, memang menguntungkan saat harganya tinggi. “Tapi kalau pas murah, bisa rugi juga. Petani juga perlu kepastian harga,” imbuhnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanngan) Banyuwangi, Ilham Juanda menyebut, perubahan curah hujan dan suhu, sangat mempengaruhi sektor pertanian.

Dan itu bisa berujung pada gagal panen hingga kelangkaan pangan. “Ini bisa mengancam ketahanan pangan baik di tingkat lokal maupun global,” katanya.

Ilham menyebut, kekeringan sering terjadi karena petani masih memaksa menanam padi tanpa mempertimbangkan kondisi debit air.

“Kadang ada juga yang tidak bermusyawarah dengan (HIPPA) atau kelompok tani (poktan), sehingga rawan kekeringan,” terangnya. (gas/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#Petani #Komoditas #Air #debit air #padi #singojuruh #pangan #banyuwangi #musim kemarau