Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Musim Kemarau Tangkapan Nelayan Tinggi, Harga Ikan Asin Merosot

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 20 Oktober 2023 | 20:00 WIB
TURUN: Perajin menjemur ikan asin yang baru diproses di Pelabuhan Muncar, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar kemarin (19/10).
TURUN: Perajin menjemur ikan asin yang baru diproses di Pelabuhan Muncar, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar kemarin (19/10).

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Musim kemarau ini ternyata membawa berkah bagi para nelayan. Sebab, hasil tangkapan ikan melimpah dampak fenomena El Nino dan up welling. Tapi, ini menjadi tanda tidak baik bagi para perajin ikan asin.

Melimpahnya ikan hasil tangkapan para nelayan, membuat pasokan ikan melimpah dan harga ikan murah. Stok ikan yang tinggi itu, juga membuat harga ikan asin anjlok. “Karena pasokan banyak, harga ikan juga murah,” cetus perajin ikan asin, Sutiah, 60, warga Dusun Stoplas, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kamis (19/10).

Sutiah mengaku untuk memproduksi ikan asin menggunakan ikan laying. Ikan itu, dibeli dari nelayan yang menangkap dari perairan Muncar dan Bali. “Saya beli ikan dari nelayan Rp 13 ribu per kilogram, kalau musim hujan atau cuaca buruk harganya sampai Rp 20 ribu per kilogram,” terangnya.

Harga ikan yang rendah, jelas dia, berdampak pada harga jual ikan asin. Saat ini, jelas dia, harga ikan asin hanya Rp 23 ribu per kilogramnya. “Normalnya itu Rp 26 ribu per kilogram, kalau lagi paceklik bisa sampai Rp 30 ribu per kilogram,” cetusnya.

Meski harga ikan turun, Sutiah mengaku lebih senang saat tangkapan ikan nelayan melimpah karena olahan ikan bisa menjadi banyak. “Kalau ikan banyak, mengolah ikan asin sampai lima kuintal per hari, saya bisa kerja setiap hari dan tetap dapat penghasilan,” katanya.

Berbeda saat musim penghujan, perempuan yang sudah bekerja sebagai perajin ikan asin selama 15 tahun itu mengaku pernah libur sampai seminggu, lantaran tidak ada tangkapan ikan dari nelayan. “Kalau musim paceklik ikan bisa libur, padahal saya harus menafkahi delapan pekerja,” ujarnya.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Banyuwangi, Anang Budi Wasono menjelaskan, munculnya ikan ke permukaan yang membuat hasil tangkapan ikan nelayan meningkat, itu disebabkan fenomena Up Welling. Fenomena tersebut kerap muncul saat El Nino sedang melanda seperti saat ini. “Banyak ikan yang muncul ke permukaan perairan, nelayan mendapat lebih banyak tangkapan,” ujarnya.

Fenomena Up Welling atau pembalikan massa air, jelas dia, fenomena saat air laut yang suhunya lebih dingin dengan massa jenis lebih besar, bergerak dari dasar laut ke permukaan akibat pergerakan angin di atasnya. “Itu menjadikan suhu, salinitas, dan ketersediaan oksigen terlarut dalam air (dissolve oxygen), kandungan nutrient ikut terbawa massa air kepermukaan, sehingga menjadi habitat yang sangat optimal bagi ikan-ikan,” terangnya.

Meskipun terbantu fenomena up welling, jelas dia, hasil tangkapan ikan para nelayan masih berpotensi menurun karena purnama. “Saat padangan (purnama), ikan tidak akan muncul ke permukaan,” ungkap Anang.

Saat bulan sedang purnama, jelas dia, ikan cenderung berenang ke dalam untuk menghindari predator. “Bentuk pertahanan diri ikan karena cahaya bulan yang terang memudahkan predator untuk berburu,” terangnya.

Setelah masa padangan berakhir, ikan yang awalnya bersembunyi dari predatornya itu akan kembali muncul ke permukaan. “Ikan akan ramai muncul kembali, dan tangkapan nelayan kembali normal seperti sebelum purnama muncul,” pungkasnya.(gas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#ikan #fenomena #kemarau #nelayan #berkah #dampak #Merosot #harga #musim #ELNINO #Tangkapan