Jawa Pos Radar Banyuwangi – Warga yang tinggal di sekitar Dam Singir atau Dam Blambangan di Dusun Mangunrejo, Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, mendatangi bendungan peninggalan penjajah Belanda, Senin (16/10). Mereka turun ke sungai untuk menangkap ikan.
Warga berebut ikan setelah petugas pengairan Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Srono melakukan pengosongan dam (flushing).
Saat pintu air bendungan dibuka, sebagai tanda sungai akan dikeringkan, warga langsung turun ke sungai untuk berburu ikan dengan memakai peralatan tangkap tradisional.
”Saya menunggu sejak pagi,” ungkap Sasmito, 45, warga Dusun Krajan, Desa Bagorejo, Kecamatan Srono.
Menurut Sasmito, berburu ikan di Dam Singir sudah menjadi rutinitas setiap tahun bersama kawan-kawannya.
Setiap spei (pengeringan sungai), dia bersama warga lainnya selalu datang untuk mencari ikan. ”Dari luar wilayah Kecamatan Muncar juga banyak yang datang,” ungkapnya.
Warga lainnya, Bagus Arya, 29, asal Dusun Cempokosari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, yang sudah empat kali ikut berburu ikan di Dam Singir ini mengaku mendapat ikan lumayan banyak.
”Ikannya banyak, ada beberapa jenis seperti nila dan mujair,” katanya.
Korsda Srono Eko Susanto mengatakan, flushing merupakan agenda rutin setiap tahun dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan. Pengosongan dam bertujuan untuk memutus bibit penyakit pertanian yang berada di dalam air.
”Ini juga untuk membersihkan sedimen-sedimen yang mengendap di dasar sungai seperti lumpur,” terangnya.
Dam Singir yang terletak di antara Kecamatan Srono dan Kecamatan Muncar itu digunakan untuk mengairi sawah dari delapan desa di dua kecamatan. ”Dam ini mengairi 1.457 hektare sawah dari Kecamatan Srono dan Muncar,” ungkapnya.
Eko merinci, jumlah 1.457 hektare sawah itu meliputi sawah dari Desa Blambangan 428 hektare, Desa Tembokrejo 159 hektare, Desa Kedungrejo 110 hektare, Desa Sumbersewu 124 hektare, dan Desa Kumendung 289 hektare.
Sedangkan dari Kecamatan Srono, Desa Bagorejo ada 171 hektare, Desa Kepundungan 93 hektare, dan Desa Rejoagung 83 hektare. ”Pengairan sawah delapan desa itu dari dam ini,” ujarnya.
Pengosongan dam, kata Eko, merupakan langkah awal pengeringan sungai. Selain pembersihan, pengeringan ini dilakukan untuk memeriksa infrastruktur saluran pada bendungan peninggalan Belanda itu.
”Termasuk pembenahan instalasi dam dan pengecatan ulang pintu air,” pungkasnya. (gas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin