GAMBIRAN, Jawa Pos Radar Genteng – Musim kemarau ini, petani hidroponik dihadapkan sejumlah tantangan seperti berkurangnya debit air, timbulnya penyakit yang berpotensi merusak tanaman, dan hasil panen. Selain itu, menurunnya jumlah permintaan.
Salah satu petani hidroponik, Wintoro, 40, mengaku selama musim kemarau ini permintaan tanaman selada yang dibudidayakannya mengalami penurunan. “Terparah sekitar Agustus lalu,” ungkapnya, Kamis (5/10).
Turunnya permintaan itu, terang dia, lantaran pasokan selada dari luar kota seperti Malang dan Kabupaten Banyuwangi sendiri telah memenuhi sejumlah pasar di Kabupaten Banyuwangi.
“Karena bebarengan dengan panen raya, barang (selada) tidak bisa terserap ke pasar,” terangnya.
Wintoro mengaku, selama empat tahun terakhir hanya memenuhi pasokan untuk beberapa kecamatan di wilayah Banyuwangi selatan. “Hanya memasok wilayah Kecamatan Gambiran, Pesanggaran, Purwoharjo, Genteng, Glenmore, dan Cluring. Tidak sampai ke wilayah Banyuwangi kota,” ungkapnya.
Karena banyaknya pasokan dari luar daerah, Wintoro akhirnya ikut menyesuaikan dengan mengurangi jumlah tanaman yang dibudidayakan, agar tidak membuat harga turun.
“Saat ini per hari rata-rata hanya dipanen 10 kilogram dengan harga Rp 20 ribu per kilogram,” jelasnya.
Padahal saat permintaan selada sedang tinggi, lanjut dia, hasil panenan bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan musim kemarau seperti sekarang.
“Bisa sampai 20 kilogram per hari. Tapi sementara ini dikurangi, agar barang yang beredar di pasar tidak terlalu banyak,” ungkapnya.
Selain masalah permintaan, musim kemarau juga menimbulkan munculnya penyakit pada selada. “Yang umum terjadi itu penyakit kutu kebul dan trip, serta busuk akar yang disebabkan suhu air untuk media tanam lebih hangat dari kondisi normal,” terangnya.
Dengan kondisi ini, memaksa petani hidroponik untuk lebih memperhatikan kondisi tanaman, nutrisi, serta media tanam agar seladanya tetap berkualitas, baik di tengah musim kemarau yang masih berlangsung seperti sekarang.
“Kerja petani jadi lebih ekstra,” cetus mantan petani cabai besar itu.
Meski musim kemarau kali ini lebih lama dari yang diperkirakan, masih kata dia, untungnya pasokan air di Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran tidak sampai mengering.
“Air dari sumur tetap mengalir, tidak sampai mengganggu perkembangan tanaman hidroponik,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi