Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tak Hanya Debit Air, Gara-gara Banyuwangi Dilanda Panas Ekstrem, Ayam yang Bertelur Pun Ikut Menurun

Salis Ali Muhyidin • Sabtu, 7 Oktober 2023 | 14:00 WIB
PANAS: Produktivitas ayam petelur milik Ahmad Haris Tri Cahyono menurun akibat cuaca panas yang ekstrem Jumat (6/10).
PANAS: Produktivitas ayam petelur milik Ahmad Haris Tri Cahyono menurun akibat cuaca panas yang ekstrem Jumat (6/10).

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng - Cuaca yang ekstrem membuat para peternak ayam ketar-ketir. Pada kemarau dengan panas menyengat ini, membuat produktivitas ayam dalam menghasilkan telur berkurang, Jumat (6/10).

Salah satu peternak ayam Ahmad Haris Tri Cahyono, 43, asal Dusun Sumberjo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Ahmad Haris Tri Cahyono mengatakan, panas terik kerap mengurangi jumlah telur ayamnya. “Cuaca yang sangat panas ini sangat mempengaruhi,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Menurut Cahyono, penurunan ayamnya bertelur itu antara 10 hingga 30 persen. Dari 1.000 ekor ayam miliknya, terang Haris, saat panas terik seperti ini hanya bertelur sekitar 900 butir setiap harinya. “Itu itungan kasar, intinya tidak seperti hari-hari normal,” katanya saat ditemui di kandang ayamnya.

Padahal, jelas dia, saat cuaca normal, ayam-ayam piaraannya ini bisa menghasilkan telur hingga 950 sampai 970 butir telur ayam per harinya. “Ini punya saya masih tertolong dengan lokasi kandang yang terletak di pinggir sawah, sehingga sirkulasi anginnya masih lumayan bagus,” ungkapnya.

Dampak lain akibat cuaca panas ini, jelas dia, banyak telur yang cangkangnya belum terbentuk sempurna, dan ayam-ayam ini akan cenderung lebih sering minum. “Telurnya tidak bagus kalau panas-panas begini, warnanya tidak glowing,” paparnya.

Dampak lain yang fatal, lanjut dia, ayam-ayam akan mudah terkena Heat Stress hingga berdampak kematian. Untuk mempertahankan suhu di kandang biar tidak panas, ia memasang banyak kipas di kandang ayamnya. “Kalau suhu ruangnya tidak diturunkan, ayam bisa stress hingga mati karena kepanasan,” cetusnya.

Yang menguntungkan, jelass dia, dengan kondisi seperti ini membuat harga telur ayam sedikit tekerek naik. Dari yang semula hanya Rp 23 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 24 ribu per kilogram. “Harganya mulai naik meski belum signifikan,” sebutnya.

Senada dengan Haris, peternak lainnya M Firman, 27, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sempu mengungkapkan yang sama. “Kalau ini (telur berkurang) sudah terjadi setiap kemarau panjang, makanya saya membuat kandang yang sedikit terbuka agar sirkulasi udaranya bagus,” cetusnya.(sas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#ayam #cuaca #panas #normal #telur #harga