Ingin Jadi Guru, Buka Les Privat hingga Tutor di SMAN 2 Taruna Bhayangkara (SMADATARA).
RADAR GENTENG - Wisuda sarjana Institut Agama Islam (IAI) Darussalam, Blokagung, Banyuwangi yang ke-19 dan dies natalis ke-22, memunculkan nama Siti Lailatul Badriyah, 22, asal Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring sebagai wisudawan terbaik.
Ratusan pasang mata yang hadir di halaman kampus IAI Darussalam Blokagung, Banyuwangi dalam wisuda sarjana ke-19, tertuju pada sosok Siti Lailatul Badriyah.
Itu, saat perempuan muda yang biasa dipanggil Sibad itu, dipanggil ke podium setelah dinyatakan sebagai wisudawan terbaik.
Sambil mengumbar senyum, perempuan yang mengaku sejak SMP sudah mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Blokagung, itu terus berjalan sambil menatap kedepan.
Sesekali, ia menerima ucapan selamat dari sesama wisudawan. “Selamat Sibad, selamat Sibad,” terdengar bersahutan.
Sibad yang tercatat sebagai mahasiswi Program Studi (Prodi) Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) itu dinyatakan sebagai mahasiswa terbaik setelah indeks prestasi kumulatif (IPK) miliknya mencapai 3.78.
Raihan prestasi itu, ternyata didapat dengan tidak gampang. Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan suami istri (pasutri) Muhammad Jaelani, 56, dan almarhumah Siti Khamidah, itu harus pintar-pintar mengatur waktu.
Apalagi, Sibad harus kuliah sambil belajar di pesantren yang jadwalnya cukup padat. Sehingga, harus pintar-pintar mengatur waktu agar semuanya bisa berjalan dengan lancar.
“Harus bisa mengatur waktu, karena saya termasuk pengurus pesantren,” terang Siti Lailatul Badriyah alias Sibad.
Sibad sejak kecil diajari mandiri oleh kedua orang tuanya. Saat masuk pesantren, kebiasaan mandiri itu tentu banyak berguna dan mempermudaj adaptasinya.
“Karena sudah biasa mengatur segala sesuatunya sendiri, saat di pesantren tidak kaget,” cetusnya.
Alasan orang tuanya memasukkan ke pesantren, agar bisa mendapatkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya, sehingga semuanga dapat seimbang. “Itu harapan besar dari kedua orang tua saya,” terangnya.
Usai lulus SMP, Sibad melanjutkan ke SMA Darussalam yang ada di pesantrennya dan memilih jurusan IPA. Lulusna dari SMA, melanjutkan ke IAI Darussalam Prodi Tadris bahasa Indonesia yang kampusnya juga berada di pesantrennya.
“Saya milih kuliah di IAIDA karena kampus ini berbasis pesantren, selalu menjunjung nilai keagamaan dan akhlakul karimah,” ungkapnya.
Ditanya alasan memilih Prodi Tadris Bahasa Indonesia, Sibad menyebut ingin memperdalam ilmu dan teknik pembelajaran bahasa Indonesia, dan memecah suatu anggapan mata pelajaran bahasa Indonesia sangat membosankan.
“Banyak yang bilang, Bahasa Indonesia itu membosankan, padahal nyatanya tidak,” jelasnya.
Meski terbilang dominan dalam akademik, Sibad rupanya tidak pernah memasang target untuk bisa meraih IPK tertinggi, terlebih menjadi wisudawan terbaik.
Ia hanya berupaya melakukan yang terbaik. “Saya hanya mengalir dan melakukan yang terbaik. Alhamdulillah, hasilnya juga baik,” terangnya.
Setelah lulus ini, Sibad rupanya tidak mau berlama-lama nyantai. Sejak sebulan sebelum lulus, ia sudah mulai bekerja sebagai tenaga pengajar.
“Sudah sebulan jadi tutor bimbel wajib di SMAN 2 Taruna Bhayangkara (Smadatara), Genteng, Banyuwnagi,” ucapnya.
Tidak hanya di situ, Sibad juga mulai mengajar privat di rumah salah satu muridnya. Itu biasanya dilakukannya setelah ashar. “Setelah magrib, saya akan lanjut sebagai tutor bimbel di tempat lain,” ujarnya.
Meski hanya bekerja sebagai pengajar bimbel, Sibad mengungkap itu sudah mendekati cita-citanya sebagai seorang pengajar. “Saya sudah lama bercita-cita sebagai guru. Karena belum kesampaian, makanya jadi guru les dulu,” kata perempuan yang mengidolakan Najwa Shihab itu.(abi)
Editor : Agus Baihaqi