RADAR GENTENG – Ahmad Aldi Gusnantoro, 23, asal Dusun Krajan, Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, ini cukup kreatif.
Dengan memanfaatkan limbah tahu, bisa mengubah menjadi bahan bakar untuk memasak. Sebelumnya, banyak warga protes limbah yang dibuang ke sungai mencemari lingkungan.
Bujangan yang bisa menginspirasi ini, Ahmad Aldi Gusnantoro, 23, menyatakan, ide memanfaatkan limbah tahu menjadi bahan bakar untuk memasak itu, berawal dari permasalahan yang ada di desanya.
“Sekitar lima tahun lalu, ada warga yang protes karena limbah tahu,” ujarnya, Jumat (22/9).
Limbah tahu yang berasal dari sentra produksi tahu di kampungnya, biasanya oleh para perajin tahu langsung di buang ke sungai dan mencemari lingkungan.
Padahal di kampungnya, ada 15 usaha pembuatan tahu. “Warga yang tinggal di timur desa protes karena air sungai tercemar dan bau,” katanya.
Protes dari warga itu sempat ditanggapi oleh pemerintah desa. Hanya saja, masih belum ada solusi untuk menyelesaikan masalah itu.
“Hanya sebatas lokasi usaha tahu didatangi, tapi tidak ada penyelesaian,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Pada Juni 2023, Aldi mendapat tawaran dari salah satu non-government organization (NGO) untuk pemasangan reaktor biogas yang bisa digunakan untuk bahan bakar memasak.
Ia langsung menyetujui usulan NGO itu karena gratis. “Saya setuju memasang di belakang pabrik tahu,” ujarnya.
Aldi menyebut membutuhkan waktu 10 hari untuk memasang reaktor dengan diameter tiga meter dan tinggi 2,5 meter itu.
Pemasangan reaktor dilakukan pada 15 Juni 2023 dan selesai pada 25 Juni 2023. “Yang menggunakan memang belum banyak, tapi kami utamakan warga kurang mampu,” cetusnya.
Setiap harinya, Aldi menyebut ada sekitar 400 liter limbah tahu cair yang dihasilkan dari perajin tahu di sekitar rumahnya.
“Limbah itu dulunya dibuang langsung ke sungai, tapi sekarang ditampung di reaktor biogas,” terangnya.
Menggunakan limbah tahu untuk biogas, terang dia, lebih mudah dibandingkan dengan kotoran hewan.
Sebab, limbah tahu cair bisa langsung dimasukkan ke dalam reaktor. “Kalau pakai kotoran hewan harus dicampur dengan air dulu,” ujarnya.
Usaha Aldi yang memanfaatkan limbah tahu menjadi biogas itu, disambut senang oleh warga di kampungnya. Apalagi, dengan cara ini bisa mengirit keuangan keluarga.
“Sudah tidak tergantung gas elpiji melon lagi,” cetus Amsori, 59, salah satu warga Dusun Krajan, Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.
Menurut pria paro baya yang tinggal sebatang kara itu, bahan bakar dari biogas ini sudah cukup untuk kebutuhannya memasak setiap hari. “Nyala apinya juga tidak kalah dengan memakai gas elpiji,” pungkasnya. (gas/abi)
Editor : Ali Sodiqin