GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Nasib malang menimpa Marsimin. Kakek berusia 70 tahun asal Dusun Krajan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng itu, mengalami luka bakar di wajah dan tangannya karena terjebak di tengah kebun yang terbakar dekat rumahnya pada Minggu (17/9) sore.
Kakek yang lukanya cukup serius itu, oleh para tetangga ditolong dengan dilarikan ke RSUD Genteng untuk mendapat perawatan medis. “Korban mengalami luka di wajahnya, sekarang masih dirawat di RSUD Genteng,” ucap Koordinator Damkar Genteng Sutikno pada Jawa Pos Radar Genteng, Senin (18/9).
Lahan kosong yang terbakar di samping rumah Marsimin ini, sebenarnya juga akibat korban sendiri. Saat itu, korban membakar sampah di tengah lahan yang dipenuhi rerumputan kering. “Di lokasi itu banyak sampah dan ilalang kering, korban membakar sampah di situ,” ungkapnya.
Dasar apes, saat korban membakar sampah di lahan dekat rumahnya itu, api dengan cepat merembet dan membakar ilalang kering yang ada di lokasi tersebut. “Rumput ilalang yang tinggi-tinggi itu terbakar, padahal Pak Marsimin masih di tengah lahan kosong itu,” ujarnya.
Karena api semakin membesar dan tidak ada jalan keluar, masih kata Sutikno, kakek itu panik dan nekat menerobos rumput ilalang yang terbakar itu. “Rumput-rumput itu mengenai wajah dan tangan korban, sehingga melepuh dan akhirnya dibawa ke rumah sakit,” ungkapnya.
Api yang membakar lahan kosong itu, berhasil dipadamkan setelah petugas Damkar Genteng datang ke lokasi kejadian. “Proses pemadaman dan pendinginan membutuhkan waktu dua jam,” katanya seraya menyebut saat petugas damkar korban sudah dilarikan ke RSUD Genteng.
Humas RSUD Genteng, dr Sugiyo Sastro menjelaskan, kondisi kakek Marsimin sudah stabil. Sesaat setelah datang di Unit Gawat Darurah (UGD), langsung ditangani oleh petugas medis. “Lukanya sudah ditangani, kondisinya stabil,” katanya.
Hanya saja, lanjut dia, saat ini Marsimin tengah diobservasi karena luka bakar di wajahnya itu. “Mungkin tidak butuh waktu lama bisa dibawa pulang, sejauh ini masih diobservasi,” ungkapnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi