SEMENTARA itu, pelayat banyak berdatangan di rumah Ayundira Gusvivia, 17, di Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. Teman-teman korban di SMAN Darussholah, Singojuruh, juga pada berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa, Rabu (13/9).
Dari pantauan Jawa Pos Radar Genteng, puluhan siswa SMAN Darussholah, Singojuruh sudah banyak yang datang saat jenazah Dira, sapaan Ayundira Gusvivia masih berada di ruang jenazah RSUD Genteng. Meraka juga ikut mengantar jenazah temannya itu saat dibawa ke rumahnya di sebelah utara Polsek Genteng hingga pemakaman. “Yang takziah banyak,” terang Kepala Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Sugeng Widodo.
Para pelayat itu, jelas dia, banyak dari teman-teman korban di sekolah. Selain itu, para tetangga juga berdatangan. Mereka ini yang mempersiapkan semua pengurusan jenazah sampai pemakaman. “Korban ini saudaranya tidak banyak,” katanya.
Menurut Sugeng, Dira itu anak tunggal yang sejak lama hanya tinggal dengan pamannya. Ibu kandungnya, Hartik Pujiastuti, 48, selama ini bekerja di Taiwan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Sedang bapaknya, juga sudah lama menghilang. “Setahu saya, sudah lebih dari 10 hanya tinggal sama saudaranya,” ungkapnya.
Salah satu tetangga yang juga guru TK Dira, Sri Lestari, 53, mengungkapkan, ibu korban itu baru pulang sekitar dua bulan lalu. “Ibunya bekerja untuk biaya hidup Dira, ibunya itu sudah pisahan dengan ibunya,” terangnya.
Sri menyebut saat ini Hartik masih di rumah. Rencananya, akan berangkat lagi ke Taiwan tapi ditolak oleh Dira. Ibu korban itu, sudah beberapa kali pamit pada Dira untuk kerja lagi, tapi selalu ditolak. “Oleh anaknya (Dira) tidak boleh berangkat lagi, lalu kejadian ini,” tuturnya saat takziah di rumah korban.
Di mata Sri, Dira itu anaknya ceria dan mudah bergaul. Makanya, ia sempat tidak percaya muridnya sewaktu di TK itu meninggal karena kecelakaan. “Saya kaget dapat kabar meninggal karena kecelakaan,” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi