RADAR GENTENG – Alat pertanian seperti cangkul, sabit, dan parang masih diburu para petani dan peternak untuk kebutuhan menggarap sawah atau mencari pakan ternaknya. Dan harganya cenderung meningkat.
Penjual alat pertanian ini cukup mudah dicari di pasar hingga tepi jalan besar. Salah satunya di pasar tepi jalan Dusun Pekulo, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono.
“Setiap pagi buka lapak di pasar,” ujar salah satu pedagang Masriah, 54, warga Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Jumat (25/8).
Setiap pagi hingga menjelang siang, Masriah menggelar lapak di sejumlah pasar yang sedang pasaran. Beberapa barang dagangannya semua alat pertanian dan rumah tangga, seperti sabit, cangkul, parang, pisau dan lainnya.
“Beli dari perajin atau pandai besi dan dijual lagi,” katanya.
Dari beberapa jenis alat pertanian yang dijual itu, Masriah menyebut sabit menjadi barang terlaris di lapaknya.
“Sabit sudah seperti jadi kebutuhan pokok petani, untuk keperluan membersihkan rumput di sawah,” terangnya.
Sabit yang dijual Masriah juga tersedia dari beragam ukuran. Semakin besar, harganya akan lebih mahal.
“Paling murah Rp 45 ribu, yang paling besar Rp 75 ribu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Setiap hari, jelas dia, ada lima hingga sepuluh buah alat pertanian yang terjual di lapaknya.
“Tapi itu tidak setiap hari, kalau sedang sepi pembeli malah tidak terjual sama sekali,” ungkapnya.
Masriah mengaku sudah lebih dari 20 tahun jualan alat pertanian, dan selama ini tidak pernah merasa rugi.
“Karena harganya itu naik terus. Tergantung harga bahan untuk membuat alat,” imbuhnya.
Pembeli dagangan Masriah juga tidak hanya dari petani di wilayah Kecamatan Srono, adapula beberapa pembeli yang mengaku berasal dari daerah lain. “Pernah dibeli orang Jember dan Tulungagung,” ungkapnya.
Salah satu pandai besi asal Dusun Kedungrejo, Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, Heru Sugito, 50, mengaku hasil produksinya tengah bersaing keras dengan produk pabrikan. “Saya masih buat secara tradisional,” ujarnya.
Meski dibuat secara manual, Heru mengaku masih ada warga dan pedagang yang memanfaatkan jasanya untuk membuat atau memperbaiki alat-alat pertanian.
“Per hari rata-rata ada lima sampai sepuluh orang yang minta perbaikan alat,” pungkasnya. (gas/abi)
Editor : Ali Sodiqin