SEMPU, Jawa Pos Radar Genteng – Zaenuri, 65, peternak sapi asal Dusun Simbar, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, mengaku senang karena sapinya melahirkan kembar. Tapi, kegembiraannya itu tampaknya tak akan bisa lama. Sebab, meski terlihat sehat, salah satunya tidak normal.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Timur (Jatim) IV Banyuwangi, drh Risa Isna Fahziar menerangkan, apabila anak sapi terlahir kembar berkelamin jantan dan betina, akan ada sapi yang cacat. “Sapi betina akan cacat katika lahir kembar,” terangnya.
Anak sapi yang tidak sempurna itu, terang Risa, terjadi pada anak sapi yang berkelamin betina. Menurutnya, anak sapi betina terlahir tanpa ovarium. “Itu disebut freemartin. Ini sekitar 92 persen terjadi pada sapi yang lahir kembar jantan dan betina,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Risa menyebut, sapi betina yang tidak sempurnak itu akan berdampak pada proses reproduksi. Denga kata lain, jelas dia, sapi yang terlahir tanpa ovarium itu tidak akan bisa melahirkan. “Sapinya yang satu jelas terganggu reproduksinya, tidak bisa birahi karena tak punya ovarium,” cetusnya.
Meski tak bisa birahi, drh Risa mengungkap sapi itu akan memiliki bentuk tubuh yang lebih besar daripada sapi betina lainnya. “Meski cacat, sapi itu nantinya akan tumbuh besar seperti sapi jantan,” tandasnya.
Pemilik sapi, Zaenuri mengaku tidak mengetahui kondisi tersebut. Dari pengamatannya, sapi miliknya dalam kondisi sehat. “Memang di bawah ekor sapi betina ada keanehan, saya kira saat besar bisa melahirkan empat,” katanya seraya tertawa.
Zaenuri mengaku sudah memeriksakan dua sapinya ke mantri hewan yang ada di wilayahnya, dan hasilnya dinyatakan sehat semua. “Untuk makannya juga senang semua, kok, jadi saya anggap sehat,” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi