GAMBIRAN, Jawa Pos Radar Genteng – Pasangan suami istri (pasutri) Sujono, 60, dan Sukinah, 55, warga Dusun Tempurejo, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, termasuk pasangan tangguh.
Di usianya yang sudah mencapai separo abad itu masih bekerja sebagai pemecah batu. Mereka memilih pekerjaan itu lantaran tak punya pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sujono dan Sukinah mulai bekerja memecah batu sejak pagi. Diawali dengan mencari batu di sungai yang tidak jauh dari rumahnya. “Yang dicari batu-batu sebesar genggaman tangan anak kecil,” ujar Sujono, Minggu (20/8).
Batu-batu itu, terang dia, dikumpulkan dalam beberapa ember besar yang dibawa dari rumah. Usai terkumpul, bebatuan itu dibawa pulang untuk dipecah. “Mecahnya manual pakai palu,” ungkap kakek dengan tiga cucu itu.
Hasil dari pekerjaan Sujono dan istrinya itu, diletakkan di halaman rumah sambil menunggu pembeli datang. “Pembeli biasanya beli per ukuran ember cat kemasan 25 kilogram,” ujarnya.
Harga batu setiap ember, Sujono tidak mematok harga terlalu mahal. Tapi dijual hanya Rp 6.000. Setiap hari, rata-rata bisa terjual empat hingga enam kaleng cat.
“Hasilnya kira-kira Rp 24 ribu per hari. Kadang tidak dapat sama sekali karena tidak ada yang beli,” katanya.
Sujono dan Sukinah mengaku, pekerjaan itu sudah dilakoni lebih dari sepuluh tahun. Selama bekerja, hambatan yang dialami saat musim hujan. “Air sungai naik, jadi tidak bisa mengumpulkan batu,” kata Sukinah.
Selain memecah batu, pasutri itu juga dipercaya oleh tetangga sekitar untuk menggembalakan kambing. “Dari dua pekerjaan ini, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Sukinah.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi