SEMPU, Jawa Pos Radar Genteng - Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-78, rupanya tidak dirasakan semua kalangan. Pedagang bambu asal Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, Nur Kholim, 53, mengaku omzetnya turun hingga 50 persen dibanding HUT RI tahun 2022 lalu, Selasa (15/8).
Nur Kholim yang mendapatkan bambu dari kebun-kebun milik warga itu, mengaku sudah 10 tahun jualan bamboo untuk berbagai keperluan Agustusan. “Pada momen HUT RI tahun ini hanya 10 sampai 30 lonjor bambu yang laku setiap hari. Tahun lalu bisa sampai 100 lonjor bambu,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Menurut Kholim, penurunan daya beli bambu yang biasa dipakai untuk tiang bendera dan lainnya itu, terjadi karena banyaknya pesaing di bisnis tersebut. “Dulu tidak banyak yang jual, tahun ini mulai ramai. Selain itu, masyarakat juga banyak yang cari bambu sendiri,” tandasnya.
Apesnya, pada HUT RI tahun ini Kholim yang menjual satu lonjor bambu dengan harga Rp 17 ribu itu, sudah terlanjur menumpuk stok bambu dari berbagai daerah. “Untuk jaga-jaga biar tidak kehabisan, saya sudah banyak nyetok. Eh malah sepi pembeli,” ungkapnya.
Kholim yang sudah jualan bambu sejak 10 tahun lalu itu, tidak hanya menjual di momen HUT RI saja. Setiap hari ada saja warga yang mencari bambu di tempatnya untuk keperluan pembuatan kandang. “Yang beli harian ya biasanya orang mau buat kandang, sudah langganan mereka,” paparnya.
Tidak hanya itu, pelanggannya juga datang dari kalangan perajin bambu. Bahan baku kerajinan dari bamboo, biasanya diambil darinya. “Pedagang bambu mulai banyak, saingannya ada,” ungkapnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi