MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Puncak musim kemarau yang panjang dampak dari fenomena El Nino, justru membawa berkah bagi petani semangka di Dusun Palurejo, Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar. Hasil panennya meningkat dengan harga masih stabil.
Salah satu petani sekaligus pedagang semangka musiman asal Dusun Palurejo, Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Umi Kulsum, 42, menyebut kualitas semangka hasil panen saat kemarau lebih baik dibanding saat penghujan. “Buahnya lebih manis dan segar,” katanya, Selasa (15/8).
Selain dari segi kualitas, lanjut dia, hasil panen semangka musim ini juga melimpah. Bahkan, kata Umi, pengiriman semangka tembus hingga ke pasaran Jakarta. “Di sini (Desa Sumberserwu) memang salah satu sentra semangka,” ungkapnya.
Melimpahnya hasil panen semangka ini, tidak membuat harga anjlok. Saat ini, harga jual masih relatif tinggi, yakni Rp 7000 per kilogram. “Harga di petani sejak Mei 2023 masih stabil, Rp 7000 per kilogram,” cetusnya.
Umi memprediksi harga buah semangka ini kemungkinan akan mengalami penurunan dalam beberapa waktu ke depan. “Sudah biasa terjadi, karena daerah lain juga mulai memasuki musim panen,” ujarnya.
Untuk menyiasatinya, Umi yang juga petani semangka ini mengaku menanam semangka dan melon pada waktu yang bersamaan. “Kalau harga semangka turun, masih ada keuntungan dari melon,” katanya.
Salah satu petani semangka lainnya, Sutomo, 53, warga setempat mengaku sangat senang dengan harga yang masih cukup tinggi. “Pupuk subsidi untuk buah semangka sudah dicabut, biaya produksi lebih mahal,” ujarnya.
Harga semangka yang tinggi itu, kata Sutomo, sangat jarang terjadi. Sebab, biasanya harga semangka di kisaran Rp 3000 hingga Rp 5000 per kilogram. “Musim panen ini, alhamdulillah harga jual tinggi,” imbuhnya.
Harga tersebut, terang Sutomo, dianggap dapat menutup biaya perawatan yang cukup tinggi per hektar yang mencapai Rp 50 juta. “Bisa balik modal untuk musim tanam ini,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi