RADAR GENTENG – SDN 1 Sepanjang yang berlokasi di Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, memang memiliki siswa yang amat sedikit, yakni 31 anak saja.
Tapi siapa sangka, SD yang posisinya berada di belakang Kantor Koordinator Wilayah Satuan Pendidikan (Korwilsatdik) Glenmore itu merupakan sekolah tua yang dulunya dibuat belajar oleh anak-anak Belanda.
Tak mengherankan, bangunan ruang kelas di sekolah yang dibangun sejak tahun 1918 tersebut kental dengan nuansa Kolonial Belanda.
“Ini memang sekolah tua dan termasuk cikal bakal sekolah SD di Kecamatan Glenmore,” kata Kepala SDN 1 Sepanjang, Hindunwati kepada Jawa Pos Radar Genteng, Kamis (3/8).
Hindunwati menjelaskan, SD-nya tersebut dulunya kerap menjadi pusat kegiatan sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Glenmore.
“Karena ini sekolah yang pertama di sini. Jadi semua pusatnya di sini. Menurut sejarah, sekolah ini mulai dioperasikan pada 1925,” ujarnya.
Benar saja, dioperasikan pada tahun tersebut, SDN 1 Sepanjang banyak dipakai anak-anak berkebangsaan Belanda untuk menimba ilmu.
“Dulunya sekolah ini banyak dipakai siswa asing belajar. Makanya sekolah ini sebenarnya sekolah elit,” tandasnya.
Bukan isapan jempol belaka, menurut Hindunwati pada sekira 2012 lalu ada warga negara asing (WNA) asal Belanda yang datang ke sekolah tersebut untuk seolah-olah napak tilas.
“Mereka mengaku ingat suasana sekolah ini. Dulunya mungkin bersekolah di sini. Atau kalau tidak ya orang tua mereka yang di sini,” ungkapnya.
Saat datang ke sekolah tersebut, tak jarang para bule yang datang tersebut kerap membawa oleh-oleh seperti bola hingga kaus.
“Bule yang datang itu tidak hanya sekali. Menurut keterangan guru-guru yang tugas di sini sudah lama, sudah sering. Terakhir 2012 lalu,” sebutnya.
Malahan, menurut Hindun, ada salah satu bule yang datang dengan membawa sebuah kaus olahraga yang dulunya dipakai di sekolah tersebut. Kaus itu berwarna oranye dengan tulisan Holland berukuran besar di dada.
“Kaus itu yang kemudian menjadi inspirasi buat kami. Makanya desain kaus olahraga siswa kami samakan dengan itu, hanya ditambahi sedikit-sedikit,” ujarnya.
Di sisi lain, setelah sempat menjadi sekolah elit, lambat laun sekolah tersebut mulai menemui jalan terjal. Kini sekolah tersebut hanya dihuni 31 murid saja dengan kelas 3 yang hanya satu siswa.
“Lama kelamaan sepi. Semoga dengan renovasi yang baru diberikan bisa menjadi lebih ramai,” tandasnya. (sas/als)
Editor : Ali Sodiqin