Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pernah Rawat Unta Selama 21 Tahun di Arab Saudi, Nenek Asal Songgon Itu Kini Sukses Ternak Kambing Perah

Lugas Rumpakaadi • Selasa, 1 Agustus 2023 | 19:00 WIB
TELATEN: Peternak kambing perah asal Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Siti Badriyah Mudahlan memerah susu di kandangnya, Minggu (30/7).
TELATEN: Peternak kambing perah asal Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Siti Badriyah Mudahlan memerah susu di kandangnya, Minggu (30/7).

RADAR GENTENG – Mantan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Dusun Bayurejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, ini bisa dibilang kreatif.

Siti Badriyah Mudahlan, 50, sukses beternak kambing perah sejak kepulangannya dari Arab Saudi.

Badriyah, sapaan akrabnya, mengaku belajar beternak kambing perah dari ilmu yang didapatnya di Arab Saudi.

“Dulu pernah ikut merawat unta-unta milik majikan,” ungkapnya, Minggu (30/7).

Selama 21 tahun merantau, sambil merawat unta milik majikannya, Badriyah juga belajar memerah susunya.

“Ilmu selama di Saudi itu kemudian saya terapkan di kampung halaman,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Badriyah bercerita, sekitar lima tahun lalu, ia hanya mampu membeli sepasang kambing perah berjenis Etawa. Lambat laun hasil budidaya kambingnya cukup pesat hingga saat ini.

“Sekarang sudah punya kurang lebih 60 ekor kambing,” imbuhnya.

Tak puas dengan satu jenis kambing, dia memutuskan menambah jenis kambing lain, seperti Saanen yang berasal dari Swiss untuk dibudidayakan.

“Selain itu, saya juga ternak kambing Sapera, silangan Etawa dan Saanen, dan jenis Peranakan Etawa (PE) hasil persilangan Etawa dengan jenis lokal,” terangnya.

Selain sukses dalam mengawinkan kambing, Badriyah juga berhasil dalam memproduksi susunya. “Dalam sehari bisa empat kambing yang menghasilkan susu dengan hasil kurang lebih delapan liter,” ungkap Badriyah.

Susu tersebut kemudian dijualnya kepada para pelanggan yang sudah memesan dan ada yang dijual secara eceran.

Selain itu, Badriyah juga menyimpan beberapa untuk dikonsumsi sendiri. “Harga jualnya Rp 20 ribu per liter,” ujarnya.

Untuk pakan kambingnya, Badriyah menyebut menggunakan campuran dari ramban dan singkong kering yang kemudian digiling dan melalui tahap fermentasi beberapa hari.

“Biar gizi proteinnya lebih tinggi. Efeknya, kambing jadi lebih sehat, aktif, dan berisi,” terangnya.

Badriyah menyebut, olahan makanan kambing juga berpengaruh terhadap hasil produksi susunya.

Jika hanya mengandalkan pakan ramban, susu yang dihasilkan oleh kambing perah akan berbau amis. “Beda dengan hasil pakan fermentasi, rasa susunya lebih segar,” pungkasnya. (gas/als)

Editor : Ali Sodiqin
#Susu #Arab Saudi #pekerja migran #unta #Fermentasi #kambing #kreatif