RADAR GENTENG – Sejak masyarakat Banyuwangi kesulitan mencari gas elpiji 3 kilogram (gas melon), permintaan tungku di pengrajin kian meningkat. Meskipun demikian, pengrajin kompak tidak akan menaikkan harga jual.
Pengrajin tungku atau luweng, Hariyono, warga Dusun Blangkon, Desa Kebaman, Kecamatan Srono mengaku tidak akan menaikkan harga jual.
“Tetap dijual di harga Rp 35 ribu untuk tinggi 30 sentimeter dan Rp 85 ribu untuk tinggi 50 sentimeter,” katanya, Minggu (30/7).
Harga tersebut, kata dia, merupakan harga yang ditetapkannya kepada toko-toko kecil yang memesan tungku buatannya.
“Kalau di toko harganya saya cek masih di kisaran Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu,” ungkapnya.
Bapak tiga anak itu mengaku enggan menaikkan tungku buatannya. Sebab, menurutnya masyarakat kecil saat ini sangat membutuhkan tungku buatannya.
“Banyak yang butuh, kasihan kalau dinaikkan,” imbuhnya.
Selain itu, Hariyono juga menyebut harga bahan baku untuk pembuatan luweng masih tetap. Dia mendatangkan bahan baku seperti tanah liat dan abu hitam dari Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo.
Namun, dia enggan merinci besaran biaya produksinya. “Biaya produksi tidak berubah,” cetusnya.
Senada dengan Hariyono, perajin tungku lainnya, Muhammad Aris, 30, juga tidak menaikkan harga jual tungku buatannya.
Kendati mengaku kewalahan karena banyaknya pesanan. “Kebutuhan masyarakat sudah banyak, kasihan kalau saya naikkan harganya,” ujarnya.
Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, kelangkaan gas elpiji tiga kilogram beberapa pekan terakhir, membuat perajin tungku atau luweng kebanjiran rezeki.
Sebab, warga banyak yang menggunakan kayu bakar lagi untuk memasak.
Salah satu perajin tungku Hariyono, 40, asal Dusun Blangkon, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, mengaku beberapa hari terakhir kebanjiran pesanan. “Pesanan meningkat hingga tiga kali lipat dari biasanya,” ungkapnya Jumat (28/7).
Saat gas elpiji melon normal, terang dia, Pada kondisi normal, permintaan tungku hanya mencapai sepuluh buah setiap harinya. Tapi sejak gas elpiji tiga kilogram langka, pesanan mencapai 40 buah per hari.
“Kalau ada barangnya saya layani, kadang ada yang saya minta tapi stok sedang habis, jadi harus antre,” katanya. (gas/als)
Editor : Ali Sodiqin