RadarBanyuwangi.id – Kelangkaan gas elpiji 3 kg tidak membuat masyarakat hilang akal. Sejumlah warga memilih untuk kembali memanfaatkan tungku untuk keperluan memasak setiap hari.
”Nyari gas melon seminggu ini susah, di toko juga sudah habis,” ungkap Supiati, 60, salah satu warga Dusun Krajan, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.
Supiati menyebut, gara-gara gas melon seperti hilang di pasaran, pedagang gas eceran yang melayani pelanggan mulai ”nakal”.
Mereka memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga tabung gas elpji. ”Di tempat saya harga tabung gas melon mencapai Rp 20 ribu, padahal normalnya Rp 16 ribu,” ungkapnya.
Nenek lima cucu itu mengatakan, dari segi biaya penggunaan, kayu bakar lebih murah dibandingkan gas. Satu ikat kayu bakar seharga Rp12 ribu, habisnya lebih lama.
”Dibuat masak bisa seminggu lebih,” imbuhnya.
Supiati mengaku sedikit kesulitan saat baru menggunakan tungku. Tapi setelah dicoba terus, akhirnya dia mulai terbiasa dan kini memanfaatkannya untuk memasak setiap hari.
”Karena sudah lama tidak pakai, tungku biasanya hanya dipakai kalau ada hajatan,” terangnya.
Wagiyem, 60, warga Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, mengaku kebingungan mencari gas elpiji melon.
Di sejumlah toko yang menjadi langganannya, stoknya juga sudah habis. ”Tabung besar mahal, saya sudah biasa pakai yang ukuran 3 kilogram,” ucapnya.
Untuk usaha warung makannya, Wagiyem mengaku membutuhkan sekitar sembilan kilogram atau tiga tabung gas elpiji melon.
Dia lebih memilih beli gas elpiji bersubsidi karena tabung yang besar mahal. ”Kalau beli tabung yang besar tidak nutut,” dalihnya.
Meski sudah menemukan solusi untuk menyiasati kelangkaan gas elpiji, Wagiyem tetap berharap stok gas elpiji melon kembali normal.
”Mudah-mudahan stoknya kembali normal, agar bisa melanjutkan usaha warung ini,” harapnya. (gas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin