Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Batu Era Megalitikum Ditemukan di Halaman SDN 4 Sumberberas, Kecamatan Muncar

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 28 Juli 2023 | 16:16 WIB
BERSEJARAH: Batu dakon yang ditemukan di atas gumuk SDN 4 Sumberberas, Kecamatan Muncar, Kamis (27/7).
BERSEJARAH: Batu dakon yang ditemukan di atas gumuk SDN 4 Sumberberas, Kecamatan Muncar, Kamis (27/7).

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Daerah di sekitar SDN 4 Sumberberas, Dusun Sumberayu, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar oleh warga dikeramatkan. Di halaman sekolah itu, ada gumuk setinggi tiga meter dan memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Peninggalan sejarah itu berupa batu dakon yang sudah berusia sekitar 1.600 tahun, zaman megalitikum di abad ke-3. Sebelumnya, pihak sekolah tidak menyadari ada peninggalan sejarah di gumuk tersebut. “Sama sekali tidak tahu,” ungkap Maria Ulfa, Kepala SDN 4 Sumberberas, Kamis (27/7).

Menurut informasi yang diperoleh dari penjaga sekolahnya, Maria menyebut dulunya di daerah sekolah itu memang dikenal wingit. “Ceritanya ada anak-anak yang bermain di halaman sekolah dan jatuh, saat jatuh itu sering sampai patah tulang,” katanya.

Selain itu, terang dia, sekitar dekade 2000-an, gumuk yang ada di halaman sekolah itu juga kerap digunakan masyarakat nyadran dan mencari nomor togel. “Dulu sering dibuat warga nggerandong (mencari nomor togel),” ujarnya.

Maria menyebut, keanehan juga pernah terjadi saat bagian plafon di ruang kepala sekolah belum direnovasi. Sebelumnya, plafon itu hanya terbuat dari anyaman bambu atau gedheg. “Penjaga menemukan kendi dengan diameter antara 10 centimeter hingga 15 centimeter di atas plafon. Padahal tidak pernah ada orang yang naik, termasuk saat malam hari,” terangnya.

Sekitar sepekan lalu, jelas dia, seorang wali murid dari Ijen Geopark berkunjung ke SDN 4 Sumberberas, dan terkejut melihat ada batu-batu yang berlubang di atas gumuk, tepatnya di sekitar pohon beringin yang tumbuh di tengah gumuk. “Katanya, itu peninggalan sejarah,” cetusnya.

Batu-batu berlubang itu, kata Maria, biasa digunakan oleh siswa bermain saat jam istirahat. Siswanya biasa menghaluskan bunga atau daun di bebatuan itu. “Anak-anak juga biasa main masak-masakan di batu-batu itu,” ungkapnya.

Temuan batu-batu yang disebut benda bersejarah tersebut, jelas dia, selanjutnya dilaporkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. “Petugas dari Disbudpar sudah datang dan menelitinya,” pungkasnya.(gas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#plafon #Disbudpar Banyuwangi #siswa #Gumuk #anak-anak #sd #batu #sekolah #bersejarah #megalitikum #bebatuan