Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Operasi Pasar Menyasar Genteng dan Muncar, Beli Gas Elpiji Harus Bawa KTP

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 26 Juli 2023 | 15:58 WIB
ANTRE LAMA: Warga antre untuk membeli gas elpiji tiga kilogram di pasar murah yang dibuka di Kantor Kecamatan Genteng, Selasa (25/7).
ANTRE LAMA: Warga antre untuk membeli gas elpiji tiga kilogram di pasar murah yang dibuka di Kantor Kecamatan Genteng, Selasa (25/7).

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng - Kelangkaan gas elpiji direspons pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan menggelar operasi pasar murah elpiji. Menggandeng Pertamina, pemkab melalui Operasi pasar murah gas elpiji yang dilakukan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop-UMP) Banyuwangi dengan menggandeng Pertamina, masih berlanjut. Selasa (25/7), pelayanan pada masyarakat karena ada kelangkaan gas elpji tiga kilogram itu, dilaksanakan di Pendopo Kantor Kecamatan Genteng dan di RTH Blambangan, Kecamatan Muncar.

membuka pasar murah di Pendopo Kantor Kecamatan Genteng dan sejumlah titik dengan HET Rp 16.000 per tabung, Selasa (25/7).

Operasi pasar murah gas elpji di pendopo Kantor Camat Genteng dengan harga Rp 16 ribu per kilogram itu, setiap warga hanya diperbolehkan satu tabung. Untuk membeli, syaratnya membawa fotokopi KTP. “Satu titik diberi jatah sekitar 1.680 tabung gas, itu dibagi di tiga mobil,” kata Camat Genteng, Satriyo pada Jawa Pos Radar Genteng.

Untuk menghindari antrean panjang, terang dia, dalam pasar murah ini dibagi dua. Selain di kantor camat, juga dilakukan di Kantor Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. “Belajar dari lokasi lain yang sudah dimulai kemarin (Senin), untuk menghindari penumpukan kami taruh di dua lokasi,” tuturnya.

Meski sudah dipecah, bukan berarti pasar murah itu bebas kendala. Dengan antrean yang banyak  dan panasnya terik matahari, membuat pasar murah itu sempat ricuh. “Banyak warga yang tidak taat aturan dan antrean, jadi sempat ricuh, banyak yang teriak-teriak,” kata Ismawati, 49, salah satu warga Dusun Krajan, Desa Genteng Wetan.

Ismawati yang setiap hari bekerja sebagai pedagang rujak cingur dan lalapan di Jalan Gajah Mada, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, mengaku mengantre membeli tabung gas itu sejak pukul 08.00. “Sebelum buka jam 09.00, saya sudah di sini, tapi yang antre sudah banyak,” terangnya.

Ismawati mengaku tak punya pilihan selain ikut antre, lantaran sudah satu minggu kesulitan mendapatkan tabung gas elpiji. Apalagi, ia setiap hari harus memasak untuk jualan. “Kalau tidak ada gas susah, hari ini tidak jualan karena tidak bisa masak,” paparnya.

Antrean pembelian gas elpiji melon, juga terjadi di pasar murah gas di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Sejak pagi, warga sudah banyak yang berdatangan, Selasa (25/7). Mereka mengantre hingga berjam-jam demi mendapatkan satu tabung gas elpiji tiga kilogram.

Suasana antrean di RTH Tembokrejo itu sempat memanas karena antrean warga yang membludak. Bahkan, beberapa warga marah kepada petugas yang melakukan pendataan NIK, karena dinilai lambat dan tidak memprioritaskan warga yang sudah antre sejak pagi. “Warga sudah ramai sejak pagi,” terang Nur Hadi, 55, warga Dusun Krajan, Desa Tembokrejo.

Nur Hadi mengaku datang ke RTH Tembokrejo sejak pagi. Tapi hingga siang, juga belum bisa mendapatkan tabung gas elpiji.  “Sudah seminggu ini gas elpiji sulit, di toko-toko stok kosong,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Camat Muncar, Tri Setia mengatakan untuk menghindari penumpukan warga yang ingin mendapatkan tabung gas elpiji, lokasi pasar murah dibagi dua titik. Selain di RTH Tembokrejo, kegiatan ini juga dilaksanakan di Pasar Sumberayu, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. “Jatah di Kecamatan Muncar ini 1.500 tabung gas melon, 300 tabung gas di Pasar Sumberayu, dan 1.100 tabung di RTH Tembokrejo,” terangnya.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Diskop-UMP) Nanin Oktaviantie mengatakan, operasi pasar akan digelar selama sepekan di 12 titik. “Kami sediakan 1.200 sampai 1.600 tabung. Kalau kurang kami tambah, menyesuaikan dengan antrean warga,” kata Nanin.

Nanin menyebut, penyebab kelangkaan gas elpiji ukuran tiga kilogram ini karena banyak yang beralih ke elpiji subsidi. Pihaknya juga meminta kepada Pertamina sebagai pengawas, untuk memastikan elpiji melon benar-benar dinikmati masyarakat sasaran. “Elpiji melon untuk masyarakat tidak mampu dan UMKM. Jangan sampai distribusi ini tidak tepat sasaran. Kami  meminta Pertamina untuk mengawasi,” pungkasnya.(sas/gas/abi)

  

Editor : Agus Baihaqi
#gas elpiji #pemerintah #kabupaten banyuwangi #dinkop #RTH Blambangan #langka #operasi pasar #jualan #Pedagang #memasak #usaha mikro #ktp #dinas koperasi