Dalam pertemuan antara pihak sekolah dan wali murid yang dilaksanakan di gedung TPQ Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore yang selama ini dibuat belajar siswa, ternyata para orang tua siswa itu menolak rencana pemindahan tempat belajar itu, Selasa (3/1). “Mayoritas wali murid menolak rencana pemindahan tempat belajar,” terang Kepala SDN 7 Tegalharjo, Muhammad Solikhin.
Menurut Sholikin, saat ini ada jembatan darurat yang dibangun warga. Jembatan itu, menghubungkan Afdeling Carangan, Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharjo dengan Desa Karangharjo. “Jembatan itu bisa dilewati siswa, kita ingin para siswa bisa belajar lagi di sekolahnya,” terangnya.
Tapi setelah dilakukan pertemuan dengan wali murid, terang dia, sebagian besar orang tua siswa itu tetap menginginkan anak-anaknya belajar di gedung TPQ. “Wali murid menganggap jembatan darurat itu kurang aman dan bisa membahayakan,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Selain itu, lanjut dia, para wali murid yang menolak rencana KBM kembali ke sekolah, juga untuk mengurangi risiko jembatan darurat itu cepat rusak. “Bila setiap hari dilewati para siswa dan orang tuanya, jembatan darurat itu katanya bisa cepat rusak,” ujarnya menirukan alasan penolakan para wali murid.
Agar proses KBM di SDN 7 Tegalharjo ini bisa lancar, lanjut dia, maka lima siswa yang selama ini belajar di gedung sekolah karena rumahnya di daerah Afdeling Carangan, Dusun Gunungkrikil, untuk selanjutnya belajar bersama dengan siswa lainnya di penampungan gedung TPQ. ‘Wali murid yang anaknya di gedung sekolah, mengizinkan KBM dipindah ke gedung TPQ dengan melewati jembatan,” ungkapnya.
Salah satu wali murid M Gozali, 39, asal Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharjo, mengaku tidak mempermasalahkan bila mayoritas wali murid menolak KBM kembali ke gedung sekolah dengan alasan keamanan di jembatan darurat. “Tidak aneh kalau mayoritas menolak, saya sendiri mengikuti suara terbanyak, yang penting anak-anak bisa belajar dengan baik,” tuturnya.
Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, jembatan darurat dari bambu untuk pengganti Jembatan Carangan yang dibongkar, tidak hanya berdampak pada warga yang tinggal di Afdeling Carangan, Dusun Gunung Krikil, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore. Para siswa SDN 7 Tegalharjo yang lokasinya di Afdeling Carangan, tidak bisa ke sekolah dan terpaksa harus mengungsi di gedung TPQ Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Selasa (11/10).
Sejak Jembatan Carangan yang menghubungkan Desa Tegalharjo dan Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore ambruk pada 18 Nopember 2021, para siswa melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di luar sekolah. “Dulu pernah di masjid Desa Karangharjo, kemudian mengungsi di kantor Kecamatan Glenmore, lalu sekarang di sini (TPQ),” ujar Kepala SDN 7 Tegalharjo, Mohammad Solikhin.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi