Studio Elyezer milik pelukis Elyezer, 47, menjadi tuan rumah Pameran Lukisan Satusama yang digelar sejak Senin (28/11) hingga Jumat (2/12). Di titik ke-8 ini, Elyezer tak hanya memamerkan karya lukisannya saja, tapi juga karya 3D.
DENGAN memakai topi cokelat, pria itu menyambut kedatangan para pengunjung yang datang ke Studio Elyezer miliknya pada Kamis (1/12) siang. Orang itu Elyezer, 47, warga Dusun Senepo Lor, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung yang kali ini galerinya dijadikan tempat pameran lukisan oleh Kelompok Perupa Satusama.
Kelompok Perupa Satusama sudah tidak asing bagi penggemar seni lukis di wilayah Banyuwangi Selatan. Mereka rutin menggelar pameran lukisan dari satu tempat ke tempat yang lain. Lokasi pameran lukisan itu, rumah dari kesembilan anggotanya.
Pameran lukisan yang digelar di Dusun Senepo Lor, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung ini, titik kedelapan. Dan Elyezer, ditunjuk sebagai tuan rumah pada pameran lukisan yang bertema “Landscape” tersebut.
Sebagai tuan rumah, Elyezer tidak ingin mengeluarkan karya yang biasa-biasa saja. Tak tanggung-tanggung, pelukis itu memamerkan total sepuluh karyanya. “Karya yang dipamerkan tidak hanya lukisan, tapi ada yang tiga dimensi (3D),” cetusnya.
Memasuki ruangan tengah studio, salah satu karya 3D Elyezer. Bentuknya globe yang terbuat dari plastik. Tapi uniknya, globe itu dipotong layaknya buah semangka. “Ini saya beri judul Pencuci Mulut,” katanya.
Karya 3D itu terinspirasi dari kegiatan manusia yang selalu mengeruk kekayaan alam di bumi. Mereka mengeruk seperti saat memakan makanan pencuci mulut. “Pengunjung bisa menafsirkan sendiri, kira-kira buah apa yang disajikan seperti posisi karya ini,” cetusnya.
Bergeser ke ruangan di sisi timur, ada lagi satu karya 3D yang dipasang tak jauh dari lukisan milik Elyezer. Dengan judul “Melasti”, hampir serupa dengan karya sebelumnya. Karya 3D lain diberi judul “Terkepung” dengan menampilkan globe yang dikelilingi plat dari baja nirkarat.
Karya itu terinspirasi dari kondisi bumi saat ini yang terkepung berbagai macam informasi. Bumi terkepung oleh informasi dari internet yang begitu cepat. “Inilah pesan yang saya ingin tunjukkan pada pengunjung,” terangnya.
Tak hanya memamerkan karyanya saja, lewat pameran lukisan yang digelar di studio kerjanya ini, Elyezer juga ingin mengubah pola pikir dari para pengajar seni lukis. “Kami memberikan edukasi pada guru dan siswa yang mampir ke studio lewat workshop,” katanya.
Selama ini, pengajaran seputar seni lukis di sekolah hanya terpaku pada patokan atau mencontoh saja. Bahkan, sejak kecil sudah diajarkan untuk harus mewarnai dan tidak boleh keluar dari garis. Padahal, itu justru menghambat kreativitas para siswa di sekolah. “Oleh sebab itu, kami coba untuk memberikan edukasi kepada gurunya, agar siswa dibebaskan untuk mengekspresikan dirinya lewat seni lukis,” pungkasnya.(abi) Editor : Agus Baihaqi