Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jembatan Penghubung 2 Desa Ambrol

Agus Baihaqi • Senin, 21 November 2022 | 16:40 WIB
PUTUS : Jembatan penghubung Dusun Gumuk Candi, Desa Songgon dan Dusun Tegalrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon yang ambrol karena pondasinya tergerus aliran sungai, Minggu (20/11).
PUTUS : Jembatan penghubung Dusun Gumuk Candi, Desa Songgon dan Dusun Tegalrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon yang ambrol karena pondasinya tergerus aliran sungai, Minggu (20/11).
 

Satu lagi jembatan ambrol gara-gara debit air sungai tinggi karena turun hujan deras. Kali ini, jembatan yang membuat jalur terputus itu menjadi pembatas Dusun Gumuk Candi, Desa/Kecamatan Songgon, dengan Dusun Tegalrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

Jembatan yang sudah berumur puluhan tahun itu, ambrol pada Jumat (18/11) sekitar pukul 17.00. Tidak ada korban saat jembatan ini ambrol. Kebetulan, kondisi jalan juga sedang sepi. “Jembatan itu pembetas Desa SOnggon dan Desa Bayu,” terang Kapolsek Songgon AKP Eko Darmawan.

Menurut Kapolsek, jembatan yang ambrol itu panjangnya empat meter dengan lebar dua meter. Selama ini, jembatan itu menjadi jalur warga di dua desa tersebut. “Jembatan ambrol karena pondasinya tergerus air sungai, akhir-akhir ini sering turun hujan deras, debit air sungai tinggi terus,” terangnya.

Menurut Kapolsek, jembatan yang ambrol itu dibangun dari tumpukan batu dengan pondasi yang kurang kuat. Sehingga, tidak kuat menahan arus sungai yang tinggi. “Air sungai dari arah Desa Bayu itu debit tinggi dan arus sangat kuat,” jelasnya.

Salah satu warga sekitar jembatan Masriati, 58, warga Dusun Gumuk Candi, Desa/Kecamatan Songgon mengatakan, jembatan dikampungnya yang putus itu sudah berusia tua. “Dibangun sekitar tahun 1975, saya masih SD,” cetusnya.

Menurut Masriati, pembangunan jembatan itu diinisiasi oleh mendiang Kepala Dusun Gumuk Candi Nurnami dan beberapa warga sekitar seperti Mina, dan Buimin. “Pembangunan jembatan secara swadaya,” ungkapnya.

Saat warga membangun jembatan itu, lanjut dia, tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah. Batu yang dibuat untuk pembangunan jembatan, dari sekitar sungai. “Semua biaya dalam pembuatan jembatan ditanggung warga,” ungkapnya.

Selama jembatan itu putus, lanjut dia, kendaraan roda empat tidak bisa melintas. Sehingga, harus melintas ke jalan lain. “Kalau roda dua bisa lewat dengan melalui jembatan kecil dan lewat halaman rumah warga,” katanya.(cw3/abi) Editor : Agus Baihaqi
#JEmbatan Penghubung Longsor #Jembatan Tergerus Aliran Sungai #Debit Air Sungai Tinggi #jembatan ambrol