NGALAP BERKAH: Wabup Sugirah (dua dari kiri) menyerahkan nasi tumpeng pada Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo dalam ritual Bubak Bumi di Dam Karangdoro, Kecamatan Tegalsari pada Senin (31/10).
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Kabupaten Banyuwangi bersama para petani yang tergabung dalam Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), menggelar Festival Bubak Bumi di Dam Karangdoro, Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari pada Senin (31/10).
Untuk acara itu, ratusan petani dari Kecamatan Tegalsari, Siliragung, Pesanggaran, Bangorejo, Cluring, Purwoharjo, Tegaldlimo, dan Muncar berkumpul di bendungan peninggalan penjajah Belanda. Mereka antusias mengikuti upacara tradisi yang dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Banyuwangi, H Sugirah. “Bubak bumi ini ritual para petani,” cetus Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Guntur Priambodo.
Menurut Guntur, ritual Bubak Bumi ini digelar para petani sebagai bentuk syukur atas panen yang melimpah itu. Melalui upacara ini, juga untuk ngalap berkah atas segala nikmat Tuhan yang diberikan melalui kekayaan alam di Banyuwangi. “Para petani doa bersama dan mengharap hasil panen bisa melimpah ruah pada musim tanam selanjutnya,” terangnya seraya menyampaikan tradisi ini biasa digelar pada Senin Kliwon sebelum memulai masa tanam.
Sebagai bentuk kerukunan, setiap kelompok tani membawa dan mengolah hasil panennya dalam bentuk tumpeng. Mirip acara selamatan dalam tradisi Jawa. “Dalam Festival Bubuk Bumi ini juga dilakukan tabur bunga dan larung dawet di Dam Karangdoro,” terangnya.
Guntur menyampaikan, tradisi Bubak Bumi yang sudah biasa digelar para petani, untuk kali ini dikemas dalam bentuk festival. Ini bentuk dukungan dan kepedulian Pemkab Banyuwangi melalui Dinas PU Pengairan kepada para petani. “Melalui festival ini, kita semua bermaksud merajut harmoni dengan seluruh anggota HIPPA,” katanya.
Terkait pemilihan tempat di Dam Karangdoro, Guntur menyebut Dam Karangdoro itu sumber irigasi utama yang mengaliri lahan pertanian seluas 16.165 hektare di delapan kecamatan. Agar fungsinya tetap terjaga dan terus mencukupi kebutuhan irigasi, Guntur mengajak para petani menjaga kelestarian Dam Karangdoro. “Dam Karangdoro ini salah satu titik vital, mempunyai peran utama dalam mengaliri sawah-sawah petani sekitar,” terangnya.
Wabup Banyuwangi, H Sugirah dalam acara itu menyampaikan keberhasilan Banyuwangi dalam sektor pertanian, tak lepas dari getolnya para petani. “Untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah, petani harus mematuhi pola tanam dalam Rencana Tata Tanam Global (RTTG) yang sudah disusun untuk masa tanam 2022-2023,” paparnya.
Wabub Sugirah yang juga petani ini mengaku tidak asing dengan tradisi Bubak Bumi tersebut. Menggelar tradisi seperti ini sangat menarik, karena nguri-uri tradisi lokal yang agung. “Tradisi yang mengedepankan kearifan lokal, berdoa sebelum memulai tanam,” katanya.
Dalam sambutannya, Wabup Sugirah mengatakan pentingnya menjaga Dam Karangdoro, dan menekankan untuk memberikan pelayanan irigasi yang baik bagi semua petani. “Ini layak menjadi destinasi wisata yang akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Banyuwangi,” ujarnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi