Itu terlihat dari jumlah sapi yang dipasarkan para peternak di pasar hewan, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, dan melambungnya harga ternak. “Dua minggu ini pasar hewan bisa terbilang ramai, tapi dibanding sebelum ada PMK, masih termasuk sepi,” ujar Kepala Pasar Hewan Glenmore, Slamet Budiono, Rabu (5/10).
Hanya saja, jelas dia, untuk harga ternak tergolong lebih mahal. Sapi limosin yang biasanya hanya laku sekitar Rp 11 juta, setelah kasus PMK ini mencapai Rp 12 juta sampai Rp 13 juta per ekor. “Tadi ada yang sudah laku Rp 13 juta, itu sudah mahal sekali, beda sebelum (ada) PMK,” terangnya.
Sebelum ada PMK, jelas dia, setiap pasaran rata-rata ada sekitar 230 ekor sapi yang dipamerkan oleh para peternak untuk dipinang pembeli dari lokal Banyuwangi, maupun dari luar daerah. Tapi saat ini, rata-rata hanya 150 ekor sampai 160 ekor sapi saja. “Ini menunjukkan, meski berangsur pulih, tapi belum seperti semula,” ujarnya.
Slamet menyampaikan, indikasi lain jika jumlah sapi di Banyuwangi tengah menipis, para pembeli sapi di pasar hewan Glenmore yang datang dari luar daerah seperti Semarang dan Surabaya tidak banyak memborong. “Biasanya sekali datang, para pembeli dari luar kota bisa membeli delapan sampai sepuluh ekor sapi, dua minggu ini rata-rata hanya lima ekor sapi yang bisa dibawa,” paparnya.
Merosotnya jumlah sapi di Banyuwangi itu, terang Slamet, karena peternak masih banyak yang takut membeli bibitan sapi untuk dijual lagi selama PMK masih terjadi. “Peternak takut sapi yang baru dibeli mati karena sakit. Ini yang bikin sapi jadi sedikit. Pembeli ada, tapi peternaknya tidak menambah stok,” pungkasnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi