Petugas peternakan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Genteng, Erwan Patriadi mengatakan melandainya kasus PMK yang menyerang hewan pemamah biak (ruminansia) itu terjadi sejak awal September 2022. “Sebelumnya ada 48 ekor ternak yang terserang PMK,” katanya.
Dari 48 ekor ternak itu, Erwan menyebut dua di antaranya tidak bisa diselamatkan. Sedang 46 ekor lainnya, berhasil pulih dan kembali sehat. “Penyebaran PMK termasuk tinggi, ada yang mati,” terangnya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Erwan menduga vaksinasi yang digencarkan Dinas Pertanian Banyuwangi punya andil besar dalam menekan penyebaran penyakit PMK ini. “Vaksin terus kita genjot dengan dilakukan setiap dua hari sekali,” ujarnya.
Menurut Erwan, sampai saat ini capaian vaksin dosis pertama di lima desa yang ada di Kecamatan Genteng sudah mencapai 90 persen. Sedang dosis kedua, kini sudah mencapai 45 persen. “Itu dari sasaran sekitar 780 hewan ternak di Kecamatan Genteng,” tandasnya.
Untuk hewan ternak yang sudah mendapat vaksin, jelas dia, akan diberi tanda ear tag di bagian telinga. Hanya saja, pemasangan ini belum selesai secara keseluruhan karena minimnya petugas. “Sampai saat ini baru sekitar 200 ekor ternak yang sudah dipasangi ear tag,” katanya.
Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jatim IV Banyuwangi, drh Risa Isna Fahziar mengatakan saat ini kasus PMK sudah mulai melandai. “Ini dampak positif dari gencarnya vaksinasi PMK di Banyuwangi,” cetusnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi