Sejak bocah kelas VI SDN 2 Kepundungan, Kecamatan Srono, itu memutuskan berhenti mengamen dan fokus di karir bermusiknya, para pedagang mengaku tak pernah bisa melihat penampilan Farel lagi secara langsung. “Dulu Farel sering mengamen di Pasar Srono, kita sering ikut nyanyi bersama,” kata salah satu pedagang di Pasar Srono, Mariyan, 40.
Untuk mengobati rasa kangen itu, untuk mengurangi sara penat, para pedagang yang merasa kehilangan hiburan menarik itu, sekarang hanya bisa melihat penampilan Farel di kanal YouTube melalui handphone (HP). “Dulu farel sering datang,” katanya.
Mariyam mengatakan Farel saat mengamen di Pasar Srono ditemani bapaknya, Joko Suyoto, 44. Biasanya, Farel mengamen saat Pasar Subuh baru dibuka. “Gak lama kok ngamennya, setelah orang salat Subuh sampai pukul 06.00. Tapi kalau pas Minggu, biasanya ngamen hingga pukul 10.00,” katanya.
Setelah selesai mengamen, Farel dan bapaknya langsung pulang karena harus sekolah. Saat belum viral, artis cilik yang berhasil menggoyang pejabat di Istana Negara itu tidak punya kesibukan selain membantu ekonomi keluarga dengan mengamen. “Habis mengamen langsung sekolah, anak itu gak punya rasa capek,” tandasnya.
Perjuangan keras Farel dengan berangkat pagi buta untuk mengamen, patut diapresiasi. Dalam sekali mengamen, menurut Mariam, Farel bisa membawa uang Rp 400 ribu. “Banyak yang seneng ke anak itu, rezekinya bagus. Tapi memang perjuangannya keras,” ucapnya.
Mariam menyebut setelah memutuskan berhenti mengamen, para pedagang masih sering berkomunikasi dengan Farel. Mereka beberapa kali video call (VC) dengan Farel di tengah-tengah kesibukannya manggung. “Kemarin-kemarin masih sempat, tapi waktu sudah dipanggil Pak Jokowi itu tambah sibuk,” tandasnya.
Mariam berharap karir Farel bisa terus menanjak, dan bocah yang ngetop karena lagu Ojo Dibandingke itu bisa selalu rendah hati. “Kapan-kapan kalau senggang yang di pasar disamperin le, ucap Mariam seraya meminta pesan tersebut disampaikan ke Farel.(sas/abi) Editor : Gerda Sukarno Prayudha