Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Wiwit Alias Mbah Kancil, Penjual Kopi di Desa Setail, Genteng

Agus Baihaqi • Jumat, 10 Juni 2022 | 16:15 WIB
SATU ABAD : Wiwit alias Mbah Kancil. (Irham Muzaki/RadarBanyuwangi.id)
SATU ABAD : Wiwit alias Mbah Kancil. (Irham Muzaki/RadarBanyuwangi.id)
GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng - Wiwit atau biasa dipanggil Mbah Kancil dan mengaku telah berumur 103 tahun ini, pernah popular sebagai penyiar Radio Suara Tawang Alun (RSTA) Genteng di era akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Saat ini, nenek itu tinggal sendirian di Dusun Krajan 1, Desa Setail, Kecamatan Genteng.

Tinggal di sebuah rumah kecil berukuran dua meter kali empat meter yang terbuat dari papan teriplek di sekitar jalan simpang tiga, tepatnya barat Jembatan Setail, Dusun Krajan I, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Wiwit alias Mbah Kecil terlihat masih sehat dan penuh semangat.

Dengan kulit yang sudah kusut karena faktor usia, sorot mata nenek ini tampak cukup tajam. Gerakannya juga masih lincah melayani setiap pelanggan kopi di warung yang juga dibuat untuk rumah itu. “Hidup dari jualan ini,” cetus Wiwit alias Mbah Kancil saat melayani pesanan kopi dari pelanggannya.

Wartawan Jawa Pos Radar Genteng berkesempatan mencicipi kopi buatannya. Di sela-sela melayani pelanggannya itu, Mbah Kancil mengaku lahir di Dusun Stembel, Desa/Kecamatan Gambiran. Hanya saja, lupa tanggal, bulan, dan tahun dari kelahirannya. “Umur saya itu sekitar 103 tahun, itu dari keterangan orang tua dulu,” katanya.

Hanya saja, pada identitas di Kartu Tanda Penduduk (KTP), tertulis Mbah Kancil lahir pada 31 Juli 1946. Bila mengikuti ini, berarti umurnya baru 76 tahun. “Yang di KTP tidak benar, saya masih ingat waktu Jepang menyerang, saya sudah ikut bapak bertani di sawah,” dalihnya.

Mbah Kancil mengaku selama hidupnya tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah. Sejak kecil, oleh bapak dan ibunya diajak garap sawah, hingga akhirnya dinikahkan dengan tetangganya Mashud. Selama menikah, juga bekerja sebagai buruh tani. “Hidup kami susah, sawah dijual untuk hidup,” terangnya.

Bukan hanya sawah, Mbah Kancil menyebut rumah yang ditempati bersama keluarga juga harus dijual. Hingga akhirnya, pindah ke belakang masjid Al Gufron, Desa Setail. Setelah suaminya yang telah memberi dua anak itu meninggal pada 1996. Sejak saat itu, Mbah Kancil pindah lahan milik orang di belakang bengkel mobil selatan jalan simpang tiga Desa setail bersama kedua anaknya. “Anak sudah menikah semua, yang pertama tinggal di Glenmore, yang kedua bekerja dan tinggal di Bali,” jelasnya.

Lahan yang ditempati itu, ternyata oleh pemiliknya dijual. Ia Mbah Kancil pindah ke selatan jalan, barat Jembatan Setail. Tapi, lagi-lagi tanah ini oleh pemiliknya dijual dan dipinjami tempat di lahan kosong belakan rumah milik yang punya tanah itu. “Saya tidak mau menempati tanah di belakang rumah, karena sepi dan takut,” katanya.

Akhirnya, pemilik tanah mengizinkan tinggal di lahan yang kini ditempati. Kebetulan, lahan itu masih belum digunakan. Untuk menempati ini, tidak ditarik uang sewa sedikitpun. Di tempat itu, Mbah Kancil jualan kopi dan bahan bakar minyak (BBM) eceran untuk kebutuhan hidup sehari-hari. “Minimal kebutuhan makan saya terpenuhi,” ungkapnya.

Karena kondisi usianya yang sudah tua dan tubuhnya sering lemas, untuk kulakan BBM di SPBU, Mbah Kancil titip ke warung di sebrang rumahnya. Untuk titip ini, memberi uang Rp 10 ribu per jeriken. Di rumahnya itu, nenek ini juga jualan kopi,dan segala kebutuhan pokok. “Alhamdulilah, orang di sekeliling banyak yang membantu,” ucapnya.

Warung milik Mbah Kancil ini buka sejak sebelum subuh, dan tutup saat maghrib. BBM ecerannya sering laku saat pagi, pembelinya pedagang sayur keliling. Sedangkan minuman kopi, biasanya dibeli oleh pelanggan yang sudah mengenalnya. “Kalau yang tidak kenal, jarang yang pesan kopi di sini,” jelasnya.

Mbah Kancil mengaku penghasilanya tidak pernah pasti. Tapi, ia terbantu dengan bantuan dari orang-orang yang dikenal saat menjadi penyiar di Radio Suara Tawang Alun (RSTA) di Desa Setail, Kecamatan Genteng. “Saya dulu pernah menjadi penyiar radio 10 tahun lebih, sampai radio itu tutup. Selama jadi penyiar, saya banyak kenalan,” ucapnya.

Sambil memperbaiki duduknya, Mbah Kancil mengisahkan sebelum jadi penyiar radio, mulanya sering berkunjung ke studio RSTA untuk menyaksikan hiburan. Karena sering datang, pemiliknya mengenalnya dan meminta untuk menjadi penyiar. “Saya dianggap pinter ngomong, padahal tidak pernah sekolah,” cetusnya.

Mbah Kancil menerima tawaran menjadi penyiar radio itu. Acara yang dipegang lagu-lagu daerah mulai pukul 18.00 hingga pukul 22.00. “Saya dibayar Rp 500 ribu per bulan, sebelum tutup pernah tidak dibayar selama empat bulan karena bangkrut,” jelasnya.

Photo
Photo
MENYUGUHKAN: Mbah Kancil membuat kopi untuk pembeli di pinggir Jembatan Setail, Dusun Krajan I, Desa Setail, Kecamatan Genteng, kemarin (9/6). (Irham Muzaki?RadarBanyuwangi.id)

Saat mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kampanye pencalonan Bupati Banyuwangi periode pertama pada 2010, Mbah Kancil pernah diajak kampanye. Ia lupa topik yang dibicarakan. “Saat itu saya ingat pernah memegang punggung Pak Anas dan berkata kalau sudah jadi jangan lupa,” terang Mbah Kancil.

Sambil menahan napas, Mbah Kancil menyampaikan banyak kenalan selama menjadi penyiar radio, merasa kasihan dan memberi bantuan. Ia mengaku memiliki kartu berwarna merah putih pemberian dari Pemerintah Desa Setail. Tapi, tidak tahu cara menggunakannya. “Kata orang bisa dapat bantuan dari kartu itu, tapi saya tidak tahu caranya biar dapat,” jelasnya.

Mbah Kancil mengaku pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah desa berupa uang tunai dan sembako. Tapi, itu sudah beberapa bulan lalu. “Saya bersykur banyak yang peduli, yang penting saya itu masih bisa makan sudah Alhamdulilah,” ungkapnya.(abi) Editor : Agus Baihaqi
#satu abad #wiwit #Mbah kancil