Banjir yang selama ini sering terjadi setiap turun hujan deras dan air laut pasang itu, tidak ada korban jiwa. Hanya saja, perkampungan di dua dusun terendam, dan membuat warga tidak nyaman. “Air laut masuk ke sungai karena ada tanggul yang jebol, ini sudah sering terjadi dan menjadi permasalahan khusus,” terang kepala Desa (Kades) Wringinputih, Muhammad Nurhadi.
Menurut Nurhadi, banjir rob ini terjadi di di tiga titik. Daerah yang diterjang banjir ini, dikenal daerah sentra tambak ikan kerapu. Sedang satu titik lagi di Dusun Krajan yang berjarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai. “Yang paling parah di Dusun Krajan, karena lokasinya dekat dengan sungai setail,” ucapnya.
Nurhadi menyebut di Dusun Krajan menjadi daerah yang terdampak paling parah akibat banjir rob ini. Di daerah itu, ada lima Rukun Warga (RW) yang terdampak. “Ada sekitar sepuluh rumah yang kemasukan air, dan 150 rumah halamannya tergenang,” katanya.
Untuk banjir rob di Dusun Kabatmantren, jelas dia, akibat luapan aliran Sungai Tojo. Air sungai itu naik ke pemukiman warga. “Di Dusun Kabatmantren hanya 12 rumah dan satu tambak ikan yang terdampak,” tandasnya.
Salah satu warga Dusun Krajan, Desa Wringinputih, yang rumahnya kemasukan air, Bibit, 45, mengatakan banjir rob yang terjadi ini sudah sering terjadi. Bahkan, kejadian itu hamper setiap bulan. “Kalau istilahnya di sini lampekan (air pasang) biasanya di tanggal-tanggal tua,” ungkapnya.
Apesnya, kontruksi rumah Bibit lebih rendah dari beberapa rumah lain di kampungnya. Sehingga, saat air laut pasang dan meluap ke Sungai Setail hingga naik ke pemukiman warga, rumahnya selalu kemasukan air. “Rumah saya ini sudah menjadi langganan banjir,” katanya.
Untuk itu, jelas dia, setiap tanggal yang diprediksi akan terjadi banjir, ia menaikkan perabotan rumah ke tempat yang lebih tinggi agar tidak basah terendam air. “Kalau sudah masuk rumah, tingginya bisa sampai lutut, dan itu bisa terjadi selama tiga hari sampai empat hari,” pungkasnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi