Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kiai Raden Darissalam Dikenal Ulama yang Nyleneh

Ali Sodiqin • Minggu, 10 April 2022 | 20:30 WIB
kiai-raden-darissalam-dikenal-ulama-yang-nyleneh
kiai-raden-darissalam-dikenal-ulama-yang-nyleneh


MUNCAR – Kiai Raden Darissalam atau dikenal Den Daris, namanya melegenda di wilayah Banyuwangi Selatan. Ulama yang dikenal nyleneh itu wafat pada 1971, dimakamkan di belakang Masjid Al Amin, kompleks Pondok Pesantren Queen Al Ishlah, Dusun Kedungdandang, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar.



Kiai Raden Darissalam berasal dari Desa/Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Hanya saja, tidak diketahui sejak kapan kiai kampung yang tidak memiliki pondok pesantren ini datang ke Bumi Blambangan. Saat penjajahan Belanda, ikut berjuang.



Dalam keseharian, tidak ada yang tahu kegiatannya. Malahan, banyak yang tidak mengerti Den Daris ini melaksanakan salat. Kecuali pada salat-salat tertentu seperti salat tarawih, salat Idul Fitri, dan Idul Adha yang sering menjadi imam di Masjid Al Amin di Dusun Kedungdandang, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar. “Mbah Den Daris itu banyak keanehan,” cetus Mbah Lanji, 66, juru kunci makam Kiai Raden Darissalam.     



Mbah Lanji menyebut, selain salat tarawih dan salat Id, warga dikampungnya banyak yang tidak pernah melihat Den Daris ini melaksanakan salat. Dan saat itu, banyak yang menanyakannya. “Beliau itu nyleneh,” terang kakek yang dulu pernah bersama Den Dari situ.



Meski tidak ada yang melihat Den Daris ini salat, Mbah Lanji yakin tetap salat. Hanya saja, sepertinya sengaja menyembunyikannya. “Yang jelas salatnya itu hanya ditunjukkan kepada Allah,” ungkapnya.



Keanehan lain dari Den Daris, meski tidak memiliki pondok pesantren seperti kiai lain dengan nama besar, saat meninggal banyak kiai dan santri santri dari sejumlah pondok pesantren yang datang untuk takziah. “Yang takziah itu ribuan orang, meski tidak punya pesantren, Den Daris dianggap memiliki banyak santri,” tutur Lanji yang ditemani cucu Den Daris, Fiq Huddin, 52.



Saking banyaknya yang takziah, keranda jenazah Den Daris seakan berjalan sendiri di atas tangan-tangan para santri tersebut. Itu mulai dari kediamannya hingga lokasi pemakaman. “Jaraknya itu sekitar satu kilometer,” ungkapnya.



Dengan nada serius, Mbah Lanji menuturkan semasa hidupnya, Den Daris kerap dianggap sebelah mata oleh orang. Itu karena keanehan-keanehan yang sering ditunjukkan. “Kalau dilihat sekilas, gak mungkin ada yang percaya Den Daris itu orang sakti dan alim. Saya tidak pernah lihat beliau pakai sarung,” ungkapnya.



Salah satu karomah yang pernah ditunjukkan, saat Den Daris mengajak salah satu temannya, Pawirontani ke Jogjakarta dengan jalan kaki.  “Bayangkan saja, ke Jogja hanya dengan jalan kaki, ini kan aneh,” katanya seraya tertawa lebar.



Di tengah perjalaan itu, Pawirontani mengeluh kelaparan dan kecapekan kepada Den Daris. Saat itu, kondisi berada di tengah hutan dan malam hari. Mendengar keluhan temannya, Den Daris meminta Pawirontani berdiri di belakangnya dan berpegangan pada pinggangnya. “Mbah Den Daris minta temannya itu dibelakangnya sambil pegang pinggang,” ujarnya.  



Den Daris juga minta pada temannya itu, untuk memejamkan mata. Selain itu, selama perjalanan terus membaca selawat. “Dari cerita, Pawirontani merasa kakinya menyentuh dedaunan. Saat membuka mata, ternyata sudah berada di Jogja,” terangnya.



Banyak cerita aneh dari Den Daris selama hidupnya. Sering kali, dalam waktu yang sama terlihat berada di sejumlah tempat. Itu seperti sebelum wafat. “Sekitar 28 hari sebelum wafat, Mbah Den Daris selalu berada di atas ranjang. Tapi anehnya, banyak warga bertemu bertemu di jalan atau di rumahnya,” jelasnya.



Terlepas dari keanehan itu, Den Daris yang wafat pada 1971, makamnya di belakang Masjid Al Amin, kompleks Pondok Pesantren Queen Al Ishlah, Dusun Kedungdandang, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar sering didatangi peziarah dari berbagai wilayah. “Ini makamnya baru direnovasi, dulu tidak ada pembatasnya,” pungkasnya.(sas/abi)


Editor : Ali Sodiqin
#pesantren #penyebar islam