Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nenek yang Tidur di Dapur Terjun Bebas ke Jurang

Ali Sodiqin • Sabtu, 20 November 2021 | 21:35 WIB
nenek-yang-tidur-di-dapur-terjun-bebas-ke-jurang
nenek-yang-tidur-di-dapur-terjun-bebas-ke-jurang


SONGGON – Dapur rumah milik pasangan suami istri (pasutri) Misdu, 60, dan Jumainah, 60, di Dusun Kentangan, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, ambrol dan ambruk hingga rata dengan tanah, Rabu pagi (17/11). Asriyah, 90, ibu kandung Misdu yang sedang tidur di dapur terjun bebas ke jurang dengan kedalaman empat meter.



Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, Asriyah yang sempat meluncur ke jurang bersama kasurnya dan terkena reruntuhan bangunan rumah yang ambruk, hanya menderita luka lecet di kaki kirinya. Sedang Misdu bersama istrinya, Jumainah, juga selamat. “Saya dan suami tidur di depan, ibu tidur di belakang,” terang Jumainah.



Menurut Jumainah, rumahnya yang ambrol di bagian pondasi hingga akhirnya ambruk itu, terjadi sekitar pukul 04.10. Saat itu, semua yang ada di rumah masih tidur. “Rumah saya bagian belakang itu seperti jurang yang dalam,” terangnya.



Jumainah bersama suaminya, terbangun saat mendengar suara atap dapurnya dari asbes runtuh. Saat bangun, ternyata rumahnya di bagian belakang yang dibuat untuk dapur, kamar mandi dan satu kamar untuk mertuanya sudah ambruk dan rata dengan tanah. “Kamar ibu yang berada di pinggir tinggal separo, dan ibu jatuh ke jurang beserta kasurnya,” ungkapnya.



Menurut Jumainah, rumahnya yang ambruk itu karena pondasi yang ada di belakang dan berbatasan dengan jurang ambrol. Diduga pondasi yang kurang kuat dan sering turun hujan, membuat bangunan rumahnya itu ambrol. “Pondasinya ambles, dinding dan atap ambruk,” ungkapnya.



Pondasi rumahnya yang ambrol itu, jelas dia, diduga karena tidak kuat menahan beban bangunan rumah. Saat membangun rumah, semen yang dipakai hanya sedikit. “Dulu bangunnya biar hemat, kayu yang dipakai juga bekas milik orang,” katanya.



Selain itu, masih kata dia, tanah yang dibuat untuk membangun rumah itu berada di daerah yang miring. Di belakang rumahnya, lahan kebun yang dalamnya sekitar empat meter. “Ibu terjun ke bawah masih berada di atas kasur dan selamat,” ujarnya.



Jumainah menyebut, rumahnya yang ambruk ini tidak hanya sekali ini. Lima tahun lalu, rumahnya juga pernah ambruk. Hanya saja, tidak separah yang sekarang ini. “Sehari sebelumnya, dinding kamar mandi retak,” jelasnya.



Untuk membangun rumahnya agar bisa kokoh, Jumainah bersama suaminya yang hanya bekerja sebagai buruh itu berharap ada dermawan yang mau membantu.”Pemerintah desa dan kecamatan sudah datang, katanya mau membantu material,” ungkapnya seraya menyebut kerugian akibat dapur rumahnya yang ambruk itu mencapai Rp. 30 juta.(mg3/abi)


Editor : Ali Sodiqin
#cuaca ekstrem #hujan deras