Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tanaman Jagung Ludes Digerogoti Tikus

Ali Sodiqin • Selasa, 8 Juni 2021 | 21:00 WIB
tanaman-jagung-ludes-digerogoti-tikus
tanaman-jagung-ludes-digerogoti-tikus


RadarBanyuwangi.id - Tanaman jagung, semangka, dan waluh milik para petani di Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo telah ludes diserang tikus. Akibat serangan itu, sedikitnya ada lima hektare lahan milik petani yang gagal panen.



Salah satu petani, Miftah, 45, asal Dusun Kedungagung, Desa Sambirejo mengatakan, tanaman jagung miliknya yang diserang tikus gagal penan. Hama tikus mengahabiskan seluruh tanaman jagung yang ditanam di lahan tanah kas desa (TKD) Sambirejo yang disewa. “Kerugian sekitar Rp 10 juta,” ujarnya.



Tak hanya menyerang tanaman jagung, tikus itu juga menggerogoti tanaman semangka, waluh, mentimun, hingga cabai. Sudah musim ke tiga ini, hama tikus menyerang tanaman para petani di sawah. “Serangan tikus musim lalu tidak separah ini,” katanya.



Kepala Desa Sambirejo, Hadi Purnomo kepada RadarBanyuwangi.id mengatakan, serangan hama tikus musim tanam kali ini banar-benar menggila. Untuk mengatasi hama tikus itu, pemerintah desa sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Banyuwangi. Mereka juga sudah turun ke lapangan untuk meninjau lahan pertanian yang diserang tikus itu. “Tanaman jagung yang masih berusia 20 hari habis dimakan tikus. Waluh dan semangka juga banyak yang busuk akibat digerogoti tikus,” cetusnya.



Untuk mengantisipasi serangan hama tikus itu, petani kompak masang perangkap dan menyemprot lubang persembunyian tikus, menggunakan cairan pembasmi tikus. “Mudah-mudahan hama tikus bisa segera diatasi,” harapnya.



Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Arief Setiawan mengatakan serangan tikus itu diduga akibat hewan pemangsa tikus alami seperti ular sawah dan burung hantu di persawahan itu menghilang. Akibatnya, populasi tikus meledak dan sulit dikendalikan dan menyerang tanaman di persawahan. “Hewan predator sudah sulit ditemui di persawahan,” katanya.



Ia berharap perani bisa membangun ekosistem rantai makanan alami di area persawahan. Untuk mengendalikan populasi tikus, sebaikanya petani memelihara burung hantu. Pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hama tikus di persawahan, tergolong lebih ramah lingkungan dibandingkan pengendalian hama secara konvensional dengan menggunakan bahan kimia. “Burung hantu mampu memangsa dua hingga lima ekor tikus setiap harinya,” katanya.



Pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hama tikus sawah, jelas dia, memberikan benefit yang sangat bagus jika dilakukan secara benar. “Dengan pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hama tikus sawah, dapat membantu petani mengatasi permasalahan hama tikus,” ujarnya.(kri/abi)


Editor : Ali Sodiqin