RadarBanyuwangi.id – Pembubaran sejumlah pentas kesenian rakyat di beberapa tempat yang ada di Kabupaten Banyuwangi di akhir-akhir ini, memantik reaksi keras di kalangan seniman. Mereka berharap ada solusi yang baik, dan petugas tidak sekedar membubarkan.
Apalagi, animo masyarakat, terutama di wilayah Banyuwangi selatan di bidang kesenian sangat tinggi. Selain itu, juga memperhatikan kondisi para seniman sendiri. “Pemerintah perlu memberi contoh melalui protipe penyelenggaraan kesenian di masyarakat yang sesuai prokes (protokol kesehatan),” cetus pimpinan Sanggar Kuwung Wetan, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Dwi Agus Cahyono.
Dengan ada aturan atau contoh yang baik dari pemerintah, terang dia, akan bisa menjadi acuan para seniman dalam menggelar kesenian. “Kita butuh tata cara yang bisa dibuat acuan, kita butuh contoh yang benar,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Dwi menyebut banyak cara agar kegiatan kesenian bisa berjalan tanpa pelanggaran. Di antaranya Satgas Penanganan Covid-19 cek ke lokasi sehari sebelum pelaksanaan. Bila ada yang kurang sesuai dengan prokes, maka akan bisa dilengkapi. Panitia juga bisa menyiapkan denah dan kelengkapan lainnya, agar pelaksanaan kesenian bisa berjalan lebih baik. Sehingga, tidak terjadi pembubaran di tengah acara. “Seniman, Satgas, dan tuan rumah bisa koordinasi sebelumnya,” terangnya.
Jika memungkinkan, masih kata dia, ada petugas yang berjaga dan mengawasi selama kegiatan kesenian itu berlangsung. Sehingga, selama pertunjukan tetap bisa menjaga prokes. “Andai bisa, kami lebih senang ada petugas yang jaga, nanti akan kita pikirkan haknya,” jelasnya.
Dwi dengan tegas menyampaikan bersama para seniman muda siap bila dilibatkan untuk pembuatan prototype tersebut. Dia berharap, dalam waktu dekat kegiatan seni bisa berjalan normal seperti sedia kala, tentunya dengan aturan yang menaati prokes. “Kita tidak tahu pandemi sampai kapan, tapi seniman haus untuk menghibur,” katanya.
Hal senada juga disampaikan dalang kondang Banyuwangi, Ki Yuwono Lebdo Carito. Meski sudah beberapa kali sukses menggelar pementasan wayang kulit dengan sesuai prokes, tapi masih was-was kegiatannya akan dibubarkan di tengah jalan. Untuk itu, perlu ada solusi agar pelaksanaan prokes ini tidak menjadi beban bagi warga dan seniman. “Seringkali Satgas Covid-19 membubarkan pementasan itu dipicu penontonnya, jadi harus ada aturan yang baku biar tidak dibubarkan di tengah jalan, tidak ada cekcok,” ungkapnya.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin