RadarBanyuwangi.id – Bupati Ipuk Fiestiandani mengunjungi Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, kemarin (24/3). Kunjungan ke desa paling terpencil di Bumi Blambangan itu, dalam rangka program bupati ngantor di desa (Bunga Desa).
Selama ngantor di desa yang dikitari hutan dan perkebunan itu, orang nomor satu di Pemkab Banyuwangi itu mendorong percepatan sertifikasi tanah untuk warga dan pengembangan pendidikan. Dalam kegiatannya, Bupati Ipuk juga menyambangi layanan kesehatan. Salah satu bidan Dian Larasati yang bertugas di Dusun Sukamade, Desa Sarongan, mendapat hadiah motor untuk kendaraan operasional. “Semoga motor ini bisa memperlancar tugasnya, dan menambah semangat kerja ya, bu,” cetus Bupati Ipuk saat menyerahkan motor Suzuki Shogun pada bidan Dian Larasati.
Bupati Ipuk menyampaikan pemerintah terus berupaya menggalakkan program untuk meningkatkan akses kesehatan, termasuk pemberian kendaraan untuk menunjang pekerjaan dan operasional bagi para tenaga kesehatan di daerah dengan akses terbatas. “Berbagai program akan terus kami galakkan untuk meningkatkan akses kesehatan,” cetusnya.
Menurut Bupati Ipuk, bidan Dian ini salah satu tenaga kesehatan yang ditugaskan secara khusus di wilayah yang sulit dijangkau secara geografis. Salah satu fungsi utama program ini, untuk menekan angka kematian ibu dan anak. “Salah satu tugasnya, angka kematian ibu dan anak bisa turun,” terangnya.
Sementara itu, Dian merasa terharu mendapat suntikan semangat dengan perhatian dan bantuan kendaraan operasional ini. Menurutnya, bantuan sepeda motor itu sangat membantu pekerjaanya, terutama dalam menjelajahi jalur yang berat. “Kami yang ada di pelosok ini merasa diperhatikan. Kami berharap, pemkab melengkapi Poskesdes Sukamade dengan peralatan oksigen, karena letaknya yang satu jam lebih dari pusat kecamatan,” harapnya.
Selain menyerahkan bantuan kendaraan operasional, Bupati Ipuk juga melakukan peletakan batu pertama rumah bersalin, bantuan hibah dari Pemerintah Jepang. Rumah bersalin itu akan menjadi tempat pemeriksaan ibu hamil dan persalinan bagi dua desa, yakni Desa Sarongan dan Desa Kandangan.
Kepala Dinas kesehatan Banyuwangi, dr. Widji Lestariono mengungkapkan rumah bersalin ini akan menjadi bagian dari Puskesmas pembantu (Pustu) Sarongan. Selama ini, di pustu itu juga ada rumah bersalin gawat darurat yang menjadi jujugan warga dari Desa Sarongan dan Kandangan yang akan melakukan persalinan. “Dengan adanya rumah bersalin, maka fasilitas penunjang persalinan akan lebih lengkap,” terangnya.
Sementara itu, Sonny, Koordinator Program Pusat Studi dan Pengembangan SDM Mataram, sebuah Non Government Organizatioan (NGO/LSM) mengungkapkan anggaran pembangunan rumah bersalin itu mencapai Rp 1.25 miliar, meliputi pembangunan gedung termasuk utilitas yang dibutuhkan. Rencananya, pada 2021 ini bangunan sudah bisa difungsikan. “Pembangunan ditargetkan selesai sebelum akhir tahun,” ujarnya.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin