PESANGGARAN - Saat tsunami terjadi sekitar pukul 02.00 pada Kamis, 2 Juni 1994 silam, suasana di kampung nelayan Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, benar-benar kacau. Apalagi, pada hari pertama itu bantuan juga belum datang. Warga harus mengevakuasi para korban dan mengubur sendiri.
Tsunami yang terjadi pada kamis sekitar pukul 02.00, itu dirasa seperti mimpi buruk bagi Suwati, 50. Malam itu, ia sedang tidur bersama putrinya yang masih berumur 12 tahun. Suaminya, sedang menonton wayang kulit di rumah Bagong, yang rumahnya berjarak sekitar satu kilometer.
Suwati yang rumahnya berjarak sekitar 150 meter dari Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, pada dini hari itu terbangun setelah rumahnya dipenuhi air. Malahan, tubuhnya sempat tenggelam. “Suasana sangat gelap, saya terbangun saat rumah tenggelam,” terangnya.
Tapi tidak lama, air berangsur surut. Ia segera mencari anak perempuannya yang saat itu masih kelas VI SDN. Putrinya yang sempat tenggelam, langsung diraih dan dipegangi. Keduanya hanya bisa terdiam di dalam rumah sambil mencari pintu untuk keluar. “Saya mencari pintu dan ingin membuka agar air dalam rumah bisa keluar,” katanya.
Di tengah suasana yang mencekam dan gelap itu, Suwati melihat ada sosok laki-laki yang mirip suaminya. Orang itu, berdiri di depan pintu. Anehnya, anaknya meronta ingin ikut sosok lelaki yang ada di depan pintu itu. “Saya larang, karena saya tahu sosok itu bukan suami saya,” ujarnya.
Setelah air surut, Suwati bersama anaknya keluar dari rumah. Di luar suasana sangat gelap. Suara jeritan, tangis, dan takbir terdnegar dimana-mana. Tidak ada yang tidur, bahkan sampai pagi dan siang. Saat hari mulai terang, suasana semakin kacau. Rumah tetangga pada rusak dan ambruk hingga rata dengan tanah. “Tetangga ada yang jadi korban,” jelasnya.
Matahari mulai merangkak naik, warga mulai mengevakuasi para korban yang meninggal. Tidak sedikit, warga meninggal di dalam rumah karena tertimpa bangunan rumahnya. Para korban itu, dikumpulkan di masjid At Taqwa. Selain itu, para korban juga banyak yang ditempatkan di halaman SDN 8 Sumberagung yang berada di dekat masjid. “Mayat-mayat dikumpulkan di masjid dan halaman sekolah (SDN),” ungkapnya.
Suwati mengaku meski rumahnya tidak ambruk, tapi rusak berat. Untuk sementara, ia bersama suami dan anaknya tinggal di tenda pengungsian bersama para korban lain yang selamat. Tenda itu didirikan di daerah tambak sisi timur kampung. “Saya lama tinggal di tenda, lebih dari seminggu,” cetusnya.
Kisah memilukan itu juga disampaikan Buamin, 66, Saat tsunami terjadi, nelayan asal Dusun Pancer, Desa Sumberagung, itu sedang berada di tengah laut untuk mencari ikan. Ibunya yang ada di rumah, menjadi korban keganasan ombak tsunami. “Saya pulang pagi, dari arah laut sudah terlihat Pancer porak-poranda,” terangnya.
Saat perahu yang dinaiki tiba di Pantai Pancer, dilihat rumah-rumah milik penduduk banyak yang hilang. Ia bersama nelayan lain yang juga baru datang melaut, langsung lari pulang untuk mencari keluarga. “Saya bilang pada nelayan lainnya, ikannya tidak usah diurus, kita mencari keluarga,” katanya.
Buamin mengaku rumahnya sudah rusak dan nyaris tidak berbentuk. Saat datang, keluarganya tidak ada dan ternyata berkumpul di masjid. Di masjid dan SDN 8 Sumberagung itu tidak hanya yang meninggal, tapi juga yang terluka dan warga selamat. ‘Semua berkumpul di masjid,” terangnya.
Saat itu suasana benar-benar kacau, semua panik. Di hari pertama itu, tidak ada bantuan dari luar. Logistik dan tenaga, semua dari warga yang tinggal di Pancer. Di antara warga, ada yang mengurus keluarganya yang meninggal, tapi juga ada yang membawa keluarganya yang terluka ke Puskesmas atau rumah sakit. “Bantuan itu mulai ada di hari kedua,” jelasnya.
Buamin menyampaikan yang meninggal akibat tsunami itu cukup banyak. Saking banyaknya, warga sampai kualahan mengurus pemakaman. Sehingga, proses pemakaman tidak selesai hanya dalam sehari. “Pemakaman dilakukan bertahap, yang meninggal banyak, tenaga pemakaman kurang,” cetusnya.
Gara-gara terkena tsunami itu, Buamin bersama keluarganya sempat diajak saudaranya tinggal di Kalimantan hingga beberapa tahun. Ia berangkat setelah 40 hari dari tragedy tsunami di Pantai Pancer itu. “Khawatirnya ada tsunami lagi, saya ke Kalimantan,” terangnya.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin