TEGALSARI – Usaha sentra pengiriman bekicot yang berada di Dusun Polean, RT 3 RW 3, Desa Tamansari, Kecamatan Tegalsari, kini tengah mengalami kendala penjualan. Pabrik yang menampung tutup sementara karena pandemi.
Salah satu pedagang bekicot, Hariyanto, 52, mengatakan sejak seminggu ini pabrik ekspor yang menampung bekicot di Muncar, menutup pemesanan. Dan itu, tidak bisa ditentukan sampai kapan. “Ini agak pusing, pabriknya tutup,” katanya.
Sebelum menutup pemesanan, terang dia, harga bekicot mengalami penurunan hingga separo dari harga sebelumnya. “Sebelum pandemi harganya Rp. 5000 per kilogram, saat pandemi hanya Rp, 2000-an per kilogram,” ungkapnya.
Penurunan harga itu, terang dia, berkaitan negara tujuan ekspor, Taiwan mengalami dampak yang cukup parah akibat Korona. Dan itu, membuat pengiriman ke negara itu mengalami pembatasan. “Selama pandemi, kami hanya dijatah lima ton per hari,” terangnya.
Untuk mengganti pengiriman ke pabrik yang ditop itu, Hariyanto harus bekerja keras mencari pembeli lain seperti pedagang sate, dan olahan rumahan. Meski barang masih bisa terserap, namun untuk harga di bawah standar pabrik. “Harganya tentu lebih murah, tapi bagaimana lagi,” jelasnya.
Hariyanto mengaku harus tetap melakukan perputaran barang untuk menjaga sirkulasi tetap berjalan baik. Terlebih, usahanya ini membawahi cukup banyak orang. Setiap hari, ada sembilan agen yang rutin menggantungkan penjualan kepadanya. “Setiap agen itu pencari bekicotnya sekitar 40 orang, jadi banyak yang menggantungkan pekerjaan dari usaha ini lumayan banyak,” ungkapnya.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin