JawaPos.com – Nasib abang ojek pangkalan di depan Terminal Jajag, Kecamatan Gambiran, itu ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Di tengah persaingan dengan ojek online hingga pelanggannya merosot, nasibnya kurang diperhatikan.
Para tukang ojek yang jumlahnya 34 orang itu, sebagian besar berumur agak tua dengan kondisi pas-pasan. Dan mereka itu, tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. “Saat ini masa yang berat bagi tukang ojek pangkalan,” terang ketua paguyuban ojek pangkalan Jajag, Lailatul Athar, 38.
Dari 34 anggota, terang dia, hanya 15 orang yang merangkap menjadi tukang ojek online. Selebihnya masih konvensional dengan usia rata-rata relatif tua. Mereka ini, tidak bisa mengoperasikan handphone untuk ikut ojek online “Sehari itu kadang hanya dapat satu penumpang,” kata warga Desa Jajag, kecamatan Gambiran.
Yang menyedihkan, jelas dia, sebagian besar dari anggota paguyuban ojek pangkalan itu pendapatannya menggantungkan dari hasil ojek. “Di rumah tidak ada kerjaan lain, ya ojek ini,” terangnya.
Meski menjadi kalangan yang cukup terdampak akibat pandemi, dia menyebut tidak memperoleh bantuan sama sekali yang dilewatkan desa. Bantuan yang pernah diterima, hanya dari Polresta Banyuwangi, itu pun dari 34 orang yang menjadi anggota, yang dapat hanya sembilan orang. “Ini sebagian warga Purwodadi dan Jajag, tidak ada yang dapat,” keluhnya.(sli/abi)