Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

PVMBG Tegaskan Akibat Longsor di Puncak Pendil

Rahman Bayu Saksono • Rabu, 27 Juni 2018 | 02:15 WIB
pvmbg-tegaskan-akibat-longsor-di-puncak-pendil
pvmbg-tegaskan-akibat-longsor-di-puncak-pendil


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) datang ke Banyuwangi untuk melakukan kajian terkait penyebab banjir bandang yang melanda empat dusun di Desa Alasmalang, Jumat (22/6) lalu. Kabid Mitigasi Gerakan Tanah PVMBG Agus Budianto menegaskan kejadian ini meru­pakan peristiwa alam. ”Kami telah lakukan kajian, ini murni peristiwa alam,” kata Agus saat ditemui di posko tanggap bencana, di Balai Desa Alasmalang, Minggu (24/6) lalu.



Agus menjelaskan, banjir ini ter­jadi akibat terjadi longsor di puncak Gunung Pendil, yang me­rupakan gunung api tertua di kompleks Gunung Raung. Ber­dasar pantauan satelit dan kajian dari PVMBG, hutan di kompleks Gunung Raung masih lebat. ”Hutannya masih sangat lebat. Kami tegaskan ini karena peristiwa alam,” kata Agus.



Gunung Pendil memiliki ke­miringan 45 derajat. Menurut Agus, mahkota longsor terjadi di kerucut Gunung Pendil. Longsor di Gunung Pendil terjadi akibat di gunung ini terjadi banyak pelapukan material vulkanik, karena gunung ini merupakan gunung api tertua yang tumbuh di kaldera besar.



Saat musim kemarau, terjadi rekahan-rekahan (retakan) tanah. Di musim hujan, air masuk ke dalam rekahan, hingga mengalami kejenuhan air. Ketika curah hujan sangat tinggi, air semakin susah masuk dan terbendung lalu tidak mampu tertahan. Karena gravitasi air turun, sehingga terjadi longsor.



”Kejadian kemarin kan curah hujan meningkat sekitar empat hari, menggenangi tanah di sana. Akhirnya tidak tertampung lalu mendobrak sisa material yang ada di atas,” jelas Agus.



Saat longsor, air membawa material vulkanik yang mengalami pelapukan, dan mendesak material lainnya termasuk pohon-pohon besar. ”Meskipun pohon besar tapi karena tanah di bawahnya mengalami pelapukan, pohon akan terbawa hingga akarnya. Ada ketinggian, kemiringan, aku­mulasi air, pelapukan, terjadilah longsor ini,” jelas Agus.



Berdasar kajian dari PVMBG, longsor yang terjadi di Gunung Pendil membawa material vulka­nik mengalir ke Sungai Badeng merupakan jalur wilayah tang­kapan air Gunung Pendil, sehingga menyebabkan banjir bandang.



”Sejak kejadian banjir Mei lalu, kami lalu kaji dan sudah disosi­alisasikan ke pemkab tentang potensi bencana geologi dari Raung. Sebenarnya kesiapan su­dah dibangun sejak dini oleh pemkab dan warga. Ini sebabnya tidak ada korban jiwa karena warning sudah ada,” kata Agus.



Saat ini, pihaknya kembali ke Banyuwangi untuk melakukan kajian kembali menghitung berapa material yang mengalami pelapukan di Gunung Pendil. ”Dan potensi terjadinya longsor,” tambahnya.



Agus mengimbau agar warga tetap waspada. Karena kondisi pe­­lapukan di Gunung Pendil di­sertai anomali curah hujan yang masih tinggi. Warga bersama pemkab tetap diminta untuk terus memantau bila ada peningkatan aliran air. ”Antisipasinya, bisa dengan segera membersihkan penghalang-peng­halang di aliran sungai. Dan yang penting, tetap antisipasi dan waspada. Khususnya rumah-rumah yang ada di sempadan sungai,” pungkas Agus.



Editor : Rahman Bayu Saksono
#gunung raung #singojuruh