Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sampah Berserakan di Pantai Sampangan

Rahman Bayu Saksono • Sabtu, 26 Mei 2018 | 01:45 WIB
sampah-berserakan-di-pantai-sampangan
sampah-berserakan-di-pantai-sampangan


MUNCAR - Persoalan sampah, ternyata masih belum bisa ditun­taskan di sekitar wilayah Pantai Muncar. Setelah ber­sih-bersih dila­kukan di sekitar Pantai Satelit, Desa Tem­­bokrejo, Kecamatan Mun­car, kini giliran di Pantai Sam­pa­ngan, Desa Ke­dungrejo, Keca­matan Muncar yang terkesan kumuh karena sampah.



Di salah satu tempat pembuangan sampah (TPS) yang ada di Dusun Sam­pangan, Desa Kedungrejo, sampah masih berserakan. Dan itu dibuat makanan kambing milik warga sekitar pantai.



Bukan hanya TPS di sekitar Pantai Sampangan, sejumlah TPS lain di Kecamatan Muncar juga banyak yang meluber. Warga yang tinggal di sekitar pantai, mulai terganggu dengan sampah yang semakin banyak itu. “Sampahnya menumpuk di pinggir pantai,” ujar Supriyadi, 45, warga Desa Kedungrejo, Ke­camatan Muncar.



Tumpukan sampah itu, terang dia, memang sudah ada di lokasi TPS. Tapi karena tidak lekas diambil, akhir­nya dibuat makanan kambing dan sampah jadi berserakan. “Seha­rusnya sampah itu segera diambil,” katanya.



Persoalan sampah di Pantai Muncar, ini menjadi perhatian serius oleh Pem­kab Banyuwangi dengan digelar Festival Kali Bersih



Melalui festival itu, kondisi sampah agak terselesaikan. “Sampah setiap hari datang, kalau tidak setiap hari diangkut ya me­numpuk lagi,” ungkapnya.



Warga lainnya, Jupri, 45, menyampaikan sebenarnya sangat disayangkan Pantai Muncar yang dulunya penghasil ikan terbesar di Indonesia, sekarang malah kurang mendapat perhatian. “Saat ada festival diperhatikan,” katanya.



Jupri mengatakan, jika memang Banyu­wangi ini ingin maju, seharusnya masyarakat desa maupun pesisir diperhatikan. Karena bergulirnya perekonomian yang paling besar, itu dari petani dan nelayan.



Editor : Rahman Bayu Saksono
#muncar