Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nenek Bertahan Hidup dengan Arang Jagung

Rahman Bayu Saksono • Selasa, 27 Maret 2018 | 23:30 WIB
nenek-bertahan-hidup-dengan-arang-jagung
nenek-bertahan-hidup-dengan-arang-jagung


SRONO - Sejumlah warga di Dusun Ka­ligoro, Desa Sukomaju, Kecamatan Srono, memproduksi arang dengan bahan dari tongkol jagung, bukan dari kayu seperti banyak dilakukan perajin arang lainnya.



Pembuatan arang dengan tongkol jagung itu, seperti dilakukan Fatimah, 71. Nenek dua cucu itu mengaku harga penjualan arang berbahan tongkol jagung, itu lebih murah dibanding arang kayu. “Ini dibuat arang untuk bahan bakar,” katanya.



Fatimah mengaku tongkol jagung yang dibuat arang itu didapat dari para petani yang panen. Selain itu, juga dari pedagang jagung. “Tongkol dari warga saya kumpulkan untuk dibuat arang,” ujarnya.



Arang dari tongkol jagung yang harganya lebih murah dari arang kayu, jelas dia, kualitasnya tidak kalah dengan arang kayu. Hanya saja, asap yang ditimbulkan lebih banyak. “Asapnya saja yang lebih banyak,” ungkapnya.



Dengan perbedaan asap tersebut, pedagang sate dan ikan bakar tidak ada yang menggunakan arang tongkol jagung, karena bisa mengganggu konsumennya. Meski demikian, arang tongkol jagung tetap memiliki pangsa pasar sendiri seperti ikan asapan serta pembakaran kulit hewan. “Pem­buat ikan asapan banyak yang menggunakan arang dari tongkol jagung,” cetusnya.



Penjualan arang tongkol jagung, lanjut dia, hanya di sekitar desanya. Para pemesan, sebenarnya cukup banyak tapi tidak bisa dilayani. “Yang mengerjakan hanya sen­dirian, saya tidak mampu melayani luar daerah,” dalihnya.



Sebagai pembuat arang tongkol jagung, Fatimah mengaku ber­syukur karena dirinya bisa terus bertahan hidup dengan usahanya tersebut. “Hasilnya tidak menentu, pokok ada yang dijual. Untuk per karung itu hanya Rp 25 ribu,” pungkasnya. (*)



Editor : Rahman Bayu Saksono
#srono #ekonomi